blog*spot
ANTOLOGI CERPEN KEDUA AGUSTINUS WAHYONO

Tuesday, August 12, 2003

ANTOLOGI CERPEN KEDUA AGUSTINUS WAHYONO

MERAH MUDA

Merah muda. Pink, kata orang. Begitu nuansa kamar kawanku, seorang pemuda kekar-mahal kelakar. Setahuku kamar ini dulunya dicat putih. Bila sudah kusam dan ternoda, dia akan mengecatnya lagi. Dengan warna putih lagi, bukan biru, hijau atau ungu.

Kini, aku sedang tertantang untuk memahami situasi hati kawanku: apa yang telah terjadi, kok seluruh dinding diselimuti warna itu. Rak-rak buku, meja baca dan ranjang kayu pun terimbas. Memang belum bisa dikategorikan seluruh isinya sewarna, karena buku-bukunya masih diberi kebebasan memakai baju aneka warna.

Aku kenal perangainya. Kawanku ini paling tidak bergairah fanatisme warna. Dia tidak tertarik bincang-bincang soal konsep warna, filosofi warna, makna warna, aura warna atau apa-apa tentang warna. Sungguh, pemuda ini tidak punya warna favorit. Tidak pernah repot dengan warna penampilannya. Bajunya ada merah, kuning, hijau, biru, ungu, oranye, coklat, hitam, putih dan warna lainnya. Warna kulitnya yang sawo matang mendekati legam, tidak menghalangi dia untuk memakai pakaian warna apapun. Siang bolong dia pakai baju merah terang. Atau kuningnya kuning. Atau oranye pas. Norak, ya? Dia tidak peduli dicap norak lho.

Itu baru soal baju. Soal celana, dia tidak ribut apakah cocok dengan warna baju atau norak. Celananya memang dominan jenis jeans. Tapi dia punya aneka warna. Hitam, hijau, biru, ungu, coklat serta putih kusam. Kalau sedang iseng, dia akan menaftolkan celananya. Terserah warna asli dicampur apa.

Apalagi kalau sudah dikombinasikan dengan warna sepatu atau sandal, susah untuk menemukan harmonisasi atau unity warna. Dia punya sepatu kain warnanya merah darah dan merah jambu. Dia pernah pakai baju hijau dangdut dan celana panjang ungu janda, sepatunya jenis sepatu bot koboi. Pernah pula pakaian serba hitam, sepatunya pakai yang merah jambu tadi. Selama beberapa musim kampanye, dia nyaris kena gebuk oknum-oknum simpatisan partai.

Koleksi warna tersebut memang kontras dengan nuansa kamarnya yang serba merah jambu. Warna genit. Merah jambu benar-benar matang, tidak condong ke merah jambu muda atau merah jambu tua. Merah jambu tengah-tengah (kapan-kapan aku tunjukkin deh, seperti apa merah jambunya sehingga kelihatan sungguh genit tak terkira).

Tidak tahu bagaimana ceritanya sampai-sampai hampir aku cuma melihat merah jambu melulu. Padahal kami mengenal pemuda ini sulit berkelakar dan tidak mudah mengumbar ekspresi jatuh cinta. Bawaannya serius terus. Tertawanya hanya sewaktu ada joke-joke rumit, yang bersubstansi imajinasi tingkat tinggi. Joke-joke rendah atau selera kumuh nan murahan, jangan harapkan suara tawa keluar dari kantong bawah hidungnya.

Eh, bisa jadi sekarang dia sedang bergurau, atau hendak mencandai kami. Diam-diam, ini orang punya selera humor untuk mengerjain orang juga. Buktinya, ia sengaja menyuruh aku datang, lalu begitu saja meninggalkan aku sendirian di kamar berwarna jenaka ini.

Tunggu sedenget, ok, Noy,” pesannya tadi, “ku nek nganter makku luk.” 1)

Ke mane?” 2)

“Ke Sri Pemandang pucuk.” 3)

Kire-kire sembile ka ngulek agik?” 4)

Pukoke sedenget be.” 5)

Sebentar. Cukup waktu untuk membawa pikiranku terbawa goresan-goresan warna kamarnya. Dia sengaja menguji pengetahuanku mengetahui makna suatu warna tertentu. Atau dia sengaja mengintimidasi perasaanku untuk lebih romantis-melankolis. Apakah dia lengah, sehingga realitas emosinya terungkap nyata pada kamar pribadinya ini, meski dia tidak suka bicara soal hati dan emosi.

Atau malah dia sendiri yang sedang romantis, mengenang masa-masa awal puber ketika remajanya dulu. Mungkin tiba-tiba teringat masa itu, tentang seseorang yang pernah menyentuh rasa cinta dalam benteng perasaannya.

Atau justru tengah jatuh cinta. Mungkin dia memang saatnya harus berubah karakter. Mungkin dia sudah merasa saatnya tepat untuk jatuh cinta. Jatuh cinta pada gadis masa lalu, tapi berjumpa lagi di suatu tempatkah. Barangkali kemarin dia menemukan gadis lainnya yang sanggup merampas cintanya. Artinya, dia sedang jatuh cinta. Titik!

Jatuh cinta? Yang bener aja. Sekian tahun kami bergaul, tak pernah kudengar dia menyinggung soal perasaan mengenai ketertarikan terhadap gadis manis. Dia pandai menyimpan cinta dan suara hatinya.

Aku penasaran. Kucari di mana album fotonya. Barangkali aku bisa menemukan sesuatu sebagai jawaban sementara. Aha! Di rak pojok, ada album foto bersampul merah cerah. Kubuka. Terlihat foto-fotonya dalam beberapa jenjang usia. Foto waktu bayi, balita, TK, SD, SMP, SMA dan sekarang. Kutelusuri yang bagian sekitar akhir-akhir ini.

Nah, foto dia bersama seorang gadis. Wuih, cantik sekali! Kulitnya kuning langsat, rambutnya lurus kayak yang biasa di iklan-iklan shampoo. Penampilannya modis sekali. Mungkin gadis ini yang telah mengubah warna kamarnya dan memudarkan sebuah gairah. Tapi…mana mungkin. Soalnya yang bersama-sama kedua makhluk ini ternyata banyak orang muda lainnya! Wah payah, terlalu cepat menilai.

Tak kutemukan tanda-tanda hubungan kasih yang terekam dalam album foto pribadinya. Tapi, setahu kami, dia bukan homo atau gay. Waktu kecil kami sering bermain bola bersama. Mancing bersama. Main di tanah bersama. Main koboi-koboian bersama. Bikin mobil-mobilan bersama. Bikin seletop 6) bersama. Masang pelepas 7) bersama. Metet 8) burung bersama. Ngejer 9) layang-layang bersama. Main kelereng bersama. Main silat-silatan bersama. Main supermen-betmen 10) bersama.

Ah, mustahil sekali dia seorang homo atau gay. Waktu kecil kawan-kawan kami sering njodoh-jodohin dia dengan seorang adik kawan. Dia pasti akan tersipu dan salah tingkah.

Atau mungkin memang begitu, namun dikamuflase dengan sikap cool-nya, sikap kelelakian yang dibuat-buat. Sikap memendam dan meredam sesuatu. Dia memendam jati dirinya sebagai pengidap kelainan-kah, sebab dalam lingkungan kami seorang homo atau gay itu jelas sangat memalukan. Apalagi lingkungan kami dekat surau, dekat rumah Uwak Haji Abdullah. Kampung kami sering ada acara pengajian dan anak-anak sudah bisa mengaji. Di sebelah rumah kawanku ini ada seorang pendeta Protestan beserta keluarganya. Bapak kawanku ini sendiri malah guru agama Nasrani. Ah, yang bener aja kawanku terkena musibah kejiwaan.

Kuingat tanggalan, hari Valentine telah lama berlalu. Bukankah masih ada warna lain yang identik dengan figur kejantanan. Bukankah ada warna-warna berkesan macho. Asalkan jangan warna genit, lemah gemulai, cengeng, centil, manja, kolokan dan favoritnya kaum Hawa.

Lantas, merah muda kamarnya, bermakna apa?

Aku menebak lagi. Bukankah merah muda berasal dari warna merah. Bukankah warna merah merupakan ekspresi kegairahan yang meluap-luap. Bukankah merah berarti perjuangan sampai titik darah penghabisan. Bukankah merah itu keberanian, kekuatan dan kejantanan yang tangguh.

Tapi saat di kamar ini, bagaimana bisa warna merah itu justru memudar. Bagaimana bisa terjadi degradasi. Apakah semangat, kegairahan, perjuangan dan kehangatan memang memudar oleh realitas, atau oleh waktu, atau oleh kompromi, atau oleh kepentingan-kepentingan lainkah.

Ah, hingga sekian jam di kamar itu, aku masih penasaran mencari makna.

Aku melihat-lihat koleksi bukunya di rak. Mungkin aku bisa menemukan makna warna itu melalui apa yang sedang menemani hari-harinya di kamar.

Kuamati satu per satu. Kategori karakter dan para pengarangnya macam-macam. Tidak ada yang menjadi favoritnya. Ada kamus beberapa bahasa, kamus kedokteran, kamus sastra, kamus politik, kamus teknik, kamus komputer, kamus ilmiah populer, kamus filsafat, kamus psikologi dan beberapa kamus lainnya yang aku lupa mencatatnya satu per satu di sini (Maaf, aku bukan seorang petugas sensus buku bacaan masyarakat) Ada karya Edwin Louis Cole, Tom Marshal, Norman Vincent Peale, Robert Liardon, Clifford Geertz, Pramoedya, Benedict Anderson, Gunawan Muhammad, Kennedy Newcombe, Kahlil Gibran, Arswendo Atmowiloto, Jaya Suprana, Seno Gumira, Ashadi Siregar, Romo Mangun dan lain-lain. Untung saja aku tidak menemukan karya Agustinus Wahyono. He he he….

Aku tidak berhasil menemukan buku-buku berkaitan dengan asmara, romantisme picisan, kehidupan kaum ragu-ragu (banci!) serta dunia wanita sebagai indikasi menuju kesimpulan makna merah muda kamar kawanku. Sampai aku terkantuk-kantuk di kamar merah muda ini.

Ah, bosan juga akhirnya. Kawanku belum datang juga.

Dua jam telah berlalu, tertiup oleh kipas angin merek Maspion. Hawanya sejuk. Hoooooah! Aku menguap, tanda kantuk tiba. Tertidurlah aku di ranjang kayu merah jambu itu. Terserah, kamar orang, rumah orang atau apa kek. Mengantukku parah.

Aku langsung bermimpi. Aku berada di taman indah. Penuh bunga-bunga merah muda. Aku duduk di kursi taman bergaya art deco, warnanya merah muda. Di depanku ada air mancur berukuran sedang. Ada patung seorang anak berwarna merah muda sedang menuangkan guci berisi air mancur itu. Dan, seorang gadis cantik sekali, mirip bintang iklan shampoo. Bibirnya asli berwarna merah jambu, memakai gaun merah jambu. Dia muncul dari arah sebelah. Baru kali ini aku melihatnya. Dia menghampiriku, lalu duduk manis di sampingku. Maka kami pun ngobrol, akrab dan cenderung seperti sepasang kekasih.

Oh, alangkah berbunga-bunga hatiku. Aku tidak ingat lagi bahwa aku sedang bosan menunggu kawanku yang tak jua pulang. Aku tidak ingat lagi kejemuanku berada di rumah orang lain. Aku tidak ingat lagi masalah aku sedang berada di mana. Yang aku tahu, saat ini aku sedang asyik dengan seorang gadis. Betapa mesranya kami bersenda gurau. Ingin segera kukatakan bahwa aku jatuh suka padanya. Lho, kan biasa, baru bertemu sudah bisa jatuh suka.

Tiba-tiba…

“Noy, bangun!” gugah kawanku. “Nek empek-empek, dak?” 11)

Buyarlah tidur lelapku yang baru beberapa menit berlalu. Buyarlah mimpi indah berhiaskan kuncup-kuncup cinta kilat itu.

Ah, lame e ka ni wo,” protesku. “Langok ku nunggu ka ngulek.” 12)

Sorry, Noy. Ku ge dak nyangka aben men pacak lame macem tu. Ka tau diweklah men ibu-ibu ketemu. Panjang kisahe,” 13) jawab kawanku, mengungkapkan kejadian di luar sana.

Aku urung kecewa setelah mendengar alasannya. Lantas kami segera makan empek-empek 14) bersama. Ada otak-otak 15) juga. Wah, lumayan banyak. Tidak percuma aku menunggu lama-lama di kamarnya.

Kok kamarka ni warnoe merah jambu ganjen macem ni?”16) tanyaku, disertai pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan apa yang sebelumnya mengendap dalam otakku. Mungkin begini ya, begitu ya dan apa sedang mengalami ini-itu. Pokoknya aku sudah memberondongnya dengan aneka jenis pertanyaan. Aku ingin tahu, kenapa tiba-tiba merah jambu muda menjadi pengisi utama atmosfir kamarnya.

Ape duso men ku makai warno ni?” 17)

Mane ade duso ge gare-gare makai warna ni untuk kamar pribadi.” 18)

Ukan ape-ape, Noy. Ku cumen tenga ingen menikmati warno kamar macem ni. Ku lah bantot kek warno puteh, krem atau warno-warno kamar kawan-kawan kite yang rato-rato mirip.” 19)

Lho, tapi ‘ken ni warno cewek?”20)

“Ah, pacak bai ka ngumong. Mane suah ade peraturan: ni warno cowok, tu warno cewek. Urang laki dak boleh makai warno tu, urang bini dak boleh makai warno ni. Pukoke ade-ade bai caro diskriminasi warno. Bagiku, yang penting ku suke nerai warno ape bai. Men lungoi, ku pacak ganti kek warno laen. Gitu aja kok repot, Noy.” 21)

Aku diam. Aku telah keliru menilai sesuatu. Ah, andai aku tadi selama dua jam tidak pening-pening berprasangka, pasti tidak buang waktu tidur lebih nyenyak, bisa lebih mengenal gadis cantik dalam mimpi sebentar tadi.

*******
babarsariyogya, 2000

Keterangan:
1) Tunggu sejenak, ya, Noy. Aku mau mengantar ibuku dulu.

2) Ke mana

3) Sri Pemandang Pucuk atau Sri Pemandang Atas; sebuah kampung di Sungailiat, Bangka.

4) Kira-kira kapan kamu kembali lagi

5) Pokoknya sebentar kok

6) Seletop = senjata mainan yang terbuat dari bahan bambu kecil. Bambu ukuran jari kelingking orang dewasa dipakai untuk laras dan gagangnya, dan bamboo ukuran lebih kecil dan longgar dimasukkan dalam laras tersebut. Pelurunya biasanya putik jambu, putik melinjo/belinju, merica/sahang mentah, kertas basah, dan lain-lain.

7) Pelepas = perangkap/penjerat unggas. Biasanya terbuat dari bahan: tulangan daun kabung/aren, dan benang bekas ikatan karung semen atau benang jahit sepatu. Jerat ini biasanya dipasang pada jejak-jejak unggas yang masih kelihatan baru dilewati dan berada di dekat ‘kubangan tanah’ untuk ‘mandi’ unggas. Petunjuk ‘baru dilewati’ adalah jejak telapak kaki, bulu atau juga kotorannya. Sedangkan ‘kubangan mandi’ unggas biasanya seluas genggaman tangan orang dewasa. Unggas yang biasanya diincar pada jejak-jejaknya saja adalah: burung perkutut, burung puyuh, dan lain-lain. Unggas yang biasa memakai ‘kubangan mandi’ adalah burung puyuh.

8) Metet berasal dari kata “betet” alias ketapel.

9) Mengejar

10) Superman-Batman; tokoh superhero fiktif dari Amerika

11) Mau empek-empek, tidak?

12) Ah, lama sekali kamu ini sih. Jenuh aku menunggu kamu kembali

13) Maaf, Noy. Aku juga sama sekali tidak menyangka kalau bisa lama seperti itu. Kamu tahu sendirilah kalau ibu-ibu ketemu. Panjang kisahnya.

14) empek-empek ini biasa dikenal dengan lenjer atau kelesan. Berbeda dengan empek-empek kappal selam dari Palembang. Empek-empek Bangka dibuat dari bahan tepung terigu/kanji/tepung sagu, ikan dencis atau tamban atau tenggiri, dibubuhi sedikit garam. Bentuknya dibuat memanjang. Setelah direbus dan matang (bisa dilihat dari warnanya yang menjadi abu-abu), empek-empek ini didiamkan atau dijemur sampai kering. Setelah kering barulah digoreng.

15) otak-otak = penganan yang dibuat dari bahan tepung terigu, ikan tenggiri dan beberapa bahan lainnya, dan diberi bumbu. Lalu dibentuk sebesar jempul orang dewasa, dibungkus dengan daun pisang. Kemudian direbus. Jika matang, warnanya menjadi putih bersih. Penganan ini akan sangat sedap dan harum jika terlebih dahulu dibakar/dipanggang. Tak lupa dimakan dengan mencelupkannya pada kuah kental pedas dari bahan utamanya tauco.

16) Kok kamarmu ini warnanya merah jambu genit begini?

17) Apakah dosa jika aku memakai warna ini?

18) Mana ada dosa gara-gara memakai warna ini untuk kamar pribadi.

19) Bukan apa-apa, Noy. Aku hanya sedang ingin menikmati warna kamar semacam ini. Aku sudah bosan pada warna putih, krem atau warna-warna kamar kawan-kawan kita yang rata-rata mirip.

20) Lho, tapi ‘kan ini warna cewek?

21) Ah, bisa saja kamu ngomong. Mana pernah ada peraturan: ini warna cowok, itu warna cewek. Orang laki/laki-laki tidak boleh memakai warna ini, orang perempuan tidak boleh memakai warna itu. Pokoknya ada-ada saja cara diskriminasi warna. Bagiku, yang penting aku suka mencoba warna apa saja. Kalau sudah bosan, aku bisa mengganti dengan warna lain. Begitu saja kok repot, Noy.

[cerpen ini dimuat di harian Bangka Pos, edisi Minggu, 19 Maret 2000]

                                              dipajang pada pukul <$BlogItemDateTime$>


ANTOLOGI CERPEN KEDUA AGUSTINUS WAHYONO

SAYAP KUPU-KUPU

Gadis berambut lurus dipotong pendek dengan kulit mendekati kuning langsat itu nampak lincah dengan kemanjaannya yang lekat. Wajahnya selalu berseri. Senyumnya bertaburan. Matanya terbang ke mana-mana. Hidupnya begitu lepas. Nampaknya dia sangat menikmati hidup ini.

Dia kukenal belum lama. Perkenalan kami secara tidak sengaja. Kebetulan saja. Di wartel Babarsari, dekat kosku.

Perkenalan dan keakraban yang super singkat. Sore hari berkenalan di wartel, malamnya langsung berduaan di kosku. Kebetulan kamarku berada di luar lingkungan induk semang. Jadi lebih leluasa.

Dia datang sendirian ke kosku. Memakai kacamata. Minyak wanginya harum, khas aroma wewangian perempuan. Dia mengaku punya hobi membaca. Ya, dia membolak-balik majalah di kamar kosku, padahal lampu kamarku cuma 5 watt.

Namanya Ika. Dia mengaku kuliah di akademi pariwisata semester baru. Sebelum akhirnya kuliah di akademi tersebut, masa sekolahnya dia sering hidup dari kota ke kota, ikut sanak-saudara. Dia mengaku kos di komplek dekat kampus tersebut.

Malam itu juga kami sudah terlibat ciuman panas, meski belum berminggu-minggu kami saling kenal. Dia begitu manja, menggemaskan. Aku senang sekali.

Dia mengajakku keluar, mencari makan di tempat yang jauh dari kosku. Dia ingin suasana yang khusus, istimewa. Dia ingin menu yang juga istimewa. Dan ternyata seluruh biaya makan malam itu dia yang membayarnya, padahal tadi sore aku sudah bersusah-payah mencari pinjaman lewat kawan-kawanku untuk mengawali malam bersama gadis periang ini.

Jam setengah sepuluh malam dia kuantarkan pulang. Tapi tidak sampai di kosnya. Hanya sampai di...persimpangan komplek itu. Aku tidak tahu di mana diantara sekian rumah itu adalah kosnya. Dan dia tidak mau aku turut turun untuk mengantarkannya sampai rumah kosnya.

“Di sini aja, Noy.”

“Mana sih kosmu, Ka?” tanyaku penasaran. Sebetulnya lumrah.

“Gitu aja kok repot, Noy,” jawabnya singkat seraya segera turun dari goncengan dan menghilang di muka gang sempit. Komplek itu memang mirip perkampungan para mahasiswa.

***

Malam-malam selanjutnya dia sering singgah ke kosku. Entah setelah membeli makanan, bubur kacang atau gorengan. Macam-macamlah bawaannya bila sudah datang. Tak jarang kita makan bersama dan semuanya dia yang membayarnya.

Lalu juga, tengah malam dia datang. Tapi tidak ada lagi kacamata. Katanya dia baru pulang dari rumah kawannya. Bau parfumnya begitu menggoda. Pakaiannya begitu anggun. Rok panjang berbahan halus dengan belahan sampai lutut. Serasi sekali. Mungkin dia memang suka menjaga penampilan dan aroma dirinya.

“Noy, aku capek nih.”

“Dari mana sih?”

“Dari pesta kawanku.”

“Kok aku ndak diajak?”

“Waduh, kawanku sih mendadak datang, langsung main angkut aja,” jawabnya manja sambil mendaratkan kepalanya di dadaku.

“Ooo...”

“Aku numpang menginap di sini ya?” pintanya. “Soalnya jam segini kosku udah tutup, Noy. Ibu kosku disiplin banget.”

Alamak! Apa pula ini kejadiannya!

Aku deg-degan juga. Belum ada seminggu dia berani menginap.

Aku sudah berpikiran yang macam-macam.

Besoknya, pagi-pagi kuantar dia ke.....persimpangan komplek tetangga. Tak pernah aku boleh menampilkan diriku sebagai laki-laki yang selazimnya.

Kehadirannya di lingkungan kosku tidak lagi asing di mata kawan-kawan se-kos. Mereka sudah tahu bahwa Ika adalah kekasih baruku, setelah kekasih lamaku ‘dianggung burung’.

Sampai suatu malam.

Seorang kawan datang ke kosku setelah aku kembali dari mengantarkan Ika ke suatu tempat untuk menagih hutang kawannya. Aku tidak melihat seperti apa kawannya itu, karena aku cuma diminta menunggu di jalan, sementara rumah kawannya masuk sebuah gang. Dan selanjutnya Ika pun kuantar pulang, ke... persimpangan komplek lagi.

Kawanku tahu bahwa Ika sering ke kosku dan diantara kami terjalin hubungan khusus. Dia tadi juga melihatku keluar kos dengan menggonceng Ika.

“Kau kenal gadis itu?”

“Iya,” sahutku. “Mahasiswi pariwisata dan kos di komplek tetangga.”

“Kau tertipu.”

“Ah, sok tau kau,” balasku. “Ngaku aja kalau kau iri dengan hubungan kami.”

Kawanku menyeringai. Senyumnya nampak meremehkan.

Alaaaaaa...pasti karena mereka iri melihat kami berdua seiring-sejalan. Pasti mereka iri melihat selalu saja aku mudah mendapatkan beraneka gadis dengan kecantikan yang berbeda pula, walau cuma dalam satu-dua kali bicara.

Tapi aku malah penasaran. Pasti ada fakta sahih yang belum aku ketahui dan mereka sudah tahu. Atau sekadar rekaan mereka supaya aku undur dan kembali seperti mereka, bermalam minggu dengan bernyanyi dan bermain remi bersama, tanpa ada pendatang berjenis perempuan.

“Lantas, emangnya siapa dia?” tantangku.

“Dia adalah...”

Hah! Kaget besar aku mendengar perkataan kawanku. Ika adalah kupu-kupu binal dan merupakan salah satu penghuni sebuah rumah kontrakan yang sebenarnya adalah rumah bordil di komplek itu.

Mana yang sebaiknya kupercaya, omongan kawanku ataukah pengakuan Ika.

Aku tidak berani konfrontasi dengan kawanku, jika memang bukti dan fakta masih simpang-siur. Aku harus menemukan kebenaran.

Iya dong. Kalau ternyata Ika memang kupu-kupu binal, lucu dong malah aku jadi bunga. Kalau benar Ika adalah salah satu kupu-kupu rumah itu, waduh....! Aku bisa malu besar nih. Karena setiap mengantarnya pulang, kami pasti melewati rumah itu. Pun setiap hari aku lewat di depan rumah itu, karena jalan itu satu-satu arah menuju kampusku. Bisa jadi beberapa orang di situ sangat hapal denganku.

Besok malamnya Ika datang lagi. Biasa, seperti orang baru jatuh cinta, sering-sering datang meski malam sudah larut. Tawa renyahnya selalu menghiasi atmosfir kamarku. Wajahnya berseri-seri, begitu riang hari-harinya. Di matanya selalu kutemukan keceriaan, ungkapan hidup begitu menyenangkan.

Senyum genit dengan alunan suara manjanya selalu muncul bersamaan dirinya berada di pintu kamar kosku. Biasanya, kedatangan Ika selalu kusambut dengan pelukan mesra dan ciuman di ubun-ubunnya. Rambutnya harum.

Namun untuk malam ini, aku tidak melakukannya.

“Hei, ada yang berubah dengan dunia ini?” pancingnya. Dia tentu sudah dapat menangkap perubahan drastis sikapku itu.

“Tidak berubah kok,” jawabku tanpa mau memandang dirinya.

“Ah, buktinya...”

“Dunia sebenarnya hendak menampilkan kejujurannya, bukan sandiwara kecil memerankan tokoh rekaan.”

Dia diam saja sambil melepaskan alas kaki. Lalu masuk dengan berusaha berlaku seperti biasa bila datang ke kosku.

“Ada apa sih, Noy?” bujuknya sambil merangkul bahuku.

Biasanya ketegaranku akan luruh, keteganganku akan runtuh. Tapi kali ini aku harus kuat-kuat menekan perasaanku, menekan keibaanku. Karena aku butuh suatu kejujurannya, bukan kemanjaan, bukan kemolekan dan bukan peran terselubungnya.

“Aku mau nanya, Ka,” kataku datar.

“Nanya aja, tapi kenapa harus berubah sikap seperti itu, Noy?”

“Kamu bukan mahasiswa pariwisata, kan? Kosmu bukan di dekat persimpangan komplek itu, kan?” tanyaku langsung. Aku kuatir kalau-kalau aku terjebak dengan pertimbangan dan perasaan yang nantinya justru membuatku tidak mendapatkan kebenaran.

Ika nampak terkejut dengan interogasiku. Dia menatapku lekat-lekat, tapi tetap diam. Dia tidak menyangka bahwa malam ini aku akan segera menanyakan statusnya.

“Siapa yang bilang begitu?”

“Ka,” balas tatapku tegas, mungkin nampak marah baginya, “siapapun orang itu, bukan masalah. Masalah sesungguhnya adalah benar atau tidaknya realitamu.”

Ika masih belum mau menjawab. Entah apa sebabnya.

Tapi aku tidak peduli. Bagiku, cukuplah kasak-kusuk kawan-kawan mengenai siapa gadis yang akhir-akhir ini dekat denganku.

“Kamu tahu betapa aku perhatian banget ama kamu. Kamu tahu aku terbuka bila kamu bertanya apa saja. Kamu tahu aku siapa. Tapi kenapa kamu malah bermain sandiwara murahan itu?”

Dan memang akhirnya Ika mengakui bahwa selama ini dia sedang menampilkan sebuah sandiwara yang disutradarainya sendiri dan diperankannya sendiri. Ika ternyata adalah seorang kupu-kupu malam yang memanfaatkan situasi perkampungan kos sebagai lokasi tinggalnya dan memanfaatkannya untuk menaikkan nilai jualnya. “Ayam-ayam kampus”, begitu istilah yang ingin diperolehnya.

Ya, “ayam kampus”. Kisah tentang itu pernah kubaca di sebuah majalah ibukota sekitar sekitar sepuluh tahun silam. Di depanku ini, nyaris saben malam bersamaku, ternyata seorang gadis panggilan seutuhnya.

Dia bukan mahasiswi sebagaimana identitas pada perkenalan kami semula. Kawan-kawanku memang bukannya iri, melainkan memberi fakta. Juga kawan-kawan itulah yang memberitahu bahwa gadis itu bukan hanya mahasiswi gadungan, namun pula paling hanya lulusan sekolah menengah pertama di daerah pelosok.

Pantas saja setiap pembicaraan kami selalu tidak nyambung. Obyek bicara gadis itu hanya seputar hubungan ‘laki-laki dan perempuan’. Samasekali tidak ada bobot intelektualnya. Pakai kacamata cuma pemberi kesan awal.

“Kuharap kamu segera keluar dari situ dan pekerjaan itu.”

“Waduh...KTP-ku ditahan oleh ‘mami’. Tukang pukulnya ngeri-ngeri. Pakaianku pun semua masih di sana,” jawabnya.

“Soal pakaian, kamu bisa sedikit demi sedikit menitipkannya di kosku. Kan kamu punya tas yang biasa kamu pakai itu.”

“Iya deh, Noy.”

Dan memang malam-malam berikutnya dia datang dengan membawa beberapa potong pakaian, tapi tak pernah dititipkannya. Kami masih akrab. Dia juga bercita-cita ingin kembali ke daerah asalnya.

Tetapi tidak sampai seminggu sejak terungkap apa profesinya, dia mulai jarang datang. Kalau pun satu-dua kali setiap dua minggu, itu pasti pada tengah malam bahkan dini hari. Katanya dia baru pulang dari diskotik.

Sampai akhirnya dia jadi sangat jarang muncul. Beberapa kali kulihat dia tiduran di kamar kos kawanku di sebelah ujung. Dan satu kali kutemukan dia sedang berdampingan dengan seorang laki-laki di ruang tunggu sebuah bioskop, diselingi canda mesra.

Sewaktu pandangan kami beradu, ekspresi mukanya tidak berubah. Dia masih selalu riang seperti pertama kukenal di kamar kosku. Mungkin baginya hidup ini enak dan menyenangkan, layak dinikmati sepuasnya selagi bisa.

---oo000oo---

[cerpen ini dimuat di harian Bangka Pos, edisi Minggu, 14 Januari 2001]



                                              dipajang pada pukul <$BlogItemDateTime$>


ANTOLOGI CERPEN KEDUA AGUSTINUS WAHYONO

JOUSEPHINE DAN ROSALIA

Aku sering kali ke rumah Jousephine, atau biasa kami panggil dengan nama Phine. Kami telah lama bertemanan. Orang tua kami sudah saling mengenal. Papanya dan ayahku berada dalam satu ruang di kantor. Mamanya dan ibuku sering bertemu dalam kegiatan ibu-ibu darma wanita lingkungan pemda. Aku tidak canggung untuk datang ke rumahnya.

Biasanya seminggu sekali-tiga kali aku datang ke rumahnya; entah selepas putar-putar kota bersama kawan-kawanku, entah pula pulang kerja atau pun sekadar iseng mencari kawan ngobrol sore sembari menikmati sajian. Mamanya juga menyenangkan.

Phine seorang gadis blasteran. Kakeknya adalah asli orang Belanda, neneknya adalah warga keturunan Cina. Sedangkan mama Jousephine – keturunan Belanda itu – menikah dengan pria Manado – papa Jousephine. Eyang dari keluarga papa Jousephine pun masih berbau Londo.

Rambutnya lurus, sepanjang bahu. Selalu tersenyum renyah, tertawa pun meriah. Dia tampil apa adanya. Biru matanya adalah cermin jiwanya. Kulit putihnya akan segera memerah sewaktu dia mengungkapkan kemalu-malukucingannya. Aku paling suka melihat pipi bakpaonya berubah jadi tomat matang bila kuisengi. Lucu. Menyenangkan.

*****

Malam itu, jam setengah delapan, aku datang ke rumahnya dengan naik vespa ayahku. Kali ini mamanya yang tampak di teras. Sedang membaca majalah wanita.

“Malam, Tante,” sapaku pelan.

“E, Onoy. Dari mana aja,” sambut beliau.

“Dari rumah saja, Tante. Sengaja mau kesini.”

“Ibumu sekarang sedang ngapain di rumah, Noy?”

“Ibu tadi baru selesai membungkus kacang atom. Katanya, untuk ngisi tambahan menu snack pas acara pertemuan ibu-ibu besok malam.”

“Oh iya, ya, besok malam ada pertemuan ibu-ibu, “ sahutnya seperti teringat sesuatu.

Waktu hening sesaat.

“Eh, mari, duduk, Noy.”

“Terima kasih, Tante.”

“Phine, dicari Bang Noy nih!” panggil beliau.“Oh iya, Tante tinggal ke dalam dulu, ya.”

Malam itu aku dan Phine bertemu untuk yang kedua kalinya selama satu minggu ini. Tidak ada yang istimewa, tidak ada yang asing. Kami ngobrol macam-macam. Tentang musik, dunia selebritis, tentang tren teknologi dan...dia mengajakku menghadiri pesta ulang tahun kawan kami. Namanya Rosalia.

*****

Ya, Rosalia. Kami memanggilnya Ocha. Aku mengenal gadis asal Jebus ini sudah sekitar empat tahun silam. Ciri khasnya adalah rambutnya lurus, panjang melebihi bahu atau mirip pemodel rambut di iklan-iklan shampoo. Rambutnya memang sangat indah. Aku senang melihatnya. Sering kukhayalkan jemariku leluasa bermain dengan rambutnya.

Waktu aku sedang sendiri menikmati sajian nasi ulang tahun, Rosalia tiba-tiba duduk di sebelahku. Phine tidak bersamaku, karena dia kumpul dengan keluarga Rosalia di belakang.

“Kapan Bang Noy mau menikahi Phine?”

Aku terkejut dengan pertanyaan khusus dewasa satu itu.

“Ah, kau ini, Cha, aneh-aneh aja.”

“Ala, jujur saja, Bang.”

“Jujur yang bagaimana, Cha?”

“Nampaknya si Phine serius lho, Bang. Abang pun tampak mengimbangi. Dari segi usia, profesi dan sosialisasi, nampaknya sudah cocok. Kawan-kawan juga tahu, bahkan tidak ada satupun yang berani bertandang atau mencoba mendekati Phine.”

“Cha, Ocha, kau ini terlalu mendramatisirkan arti sebuah persahabatan.”

“Bang Noy, aku ini perempuan dan Phine pun perempuan, punya rasa untuk meraba sebuah hubungan jiwa.”

“Iya, aku tahu kalian perempuan, punya perasaan. Tapi bukan berarti perasaan mutlak milik kaum kalian. Lagian, perasaan bukan katalisator mutlak atas sebuah situasi.”

“Berarti selama ini Abang cuma mau mempermainkan perasaan dan pengharapan Phine dan keluarganya?”

Deg! Aku tambah terkejut ketika mendengar kata “pengharapan” dan “keluarga Phine” disebut-sebut. Wah, wah, wah, ternyata pakai membawa nama keluarga.

“Ocha, pernikahan bukanlah jawaban atas pengharapan-pengharapan keluarga mertua. Pernikahan itu bukan sekadar hubungan sepasang manusia jadi satu, lalu habis perkara. Namun pernikahan butuh kebijaksanaan, Non,” jawabku sambil mengaduk-aduk kopi hangatku.

“Kan, usia Abang sudah tiga puluh. Sedangkan Phine dua lima. Abang seorang insinyur, jabatan Abang sangat strategis dan gaji sudah lebih dari cukup. Phine juga sudah kerja bagus.”

“Kebijaksanaan bukan perkara usia, bukan gelar, bukan gaji dan bukan jabatan basah.”

“Lantas?” tanya Rosalia sambil cemberut.

Aku tiba-tiba heran, kenapa justru gadis ini yang ngotot mempertanyakan hal itu.

“Kau pernah lihat sebuah keluarga yang cekcok justru lantaran masalah sepele, Cha?”

“Mmmm...” Bola hitam mata Rosalia berputar ke atas.

“Keluarga itu cukup mapan. Anak-anaknya sampai jadi sarjana. Tapi keluarga itu tidak mampu mencerminkan kualitas jasmaniah itu semua.”

“Tapi kalian serasi kok. Aku kenal betul siapa Jousephine. Juga aku kenal Abang. Banyak yang iri melihat kalian berdua. Nah, alasan apalagi untuk dijadikan persoalan?”

Aku menarik napas. Aku tidak tahu harus berkata apa untuk menjawab pertanyaan itu. Aku tidak tahu bagaimana menerangkan sesuatu kepada Rosalia. Tidak tahu harus bagaimana, sebab tidak biasanya Rosalia bicara tanpa memperlihatkan kadar intelektualitasnya. Aneh, tiba-tiba dia jadi sentimentil begini. Atau, mirip ABG.

“Jujur aja, Abang mencintai Phine, tidak?” tiba-tiba Rosalia bertanya seraya menatapku lekat-lekat.

Aduh, gadis ini sungguh berniat membongkar isi hatiku. Aku hanya diam, memancing reaksinya.

“Kuping Abang bisa dengarkah?”

Aku menatapnya datar. Kubiarkan pikirannya membedah pikiranku. Aku bertambah ingin memancing reaksinya.

“Abang mencintai Phine, ‘kan?”

“Dalam rangka apa kau bertanya begitu, Cha?”

“Abang sengaja hendak berkilahkah?”

“Lho, kok aneh betul, tiba-tiba kau malah jadi histeris,” kataku. “Boleh dong aku mengetahui motivasi pertanyaanmu.”

Rosalia diam. Bola matanya berputar ke mana-mana, seakan hendak menyapu seluruh bidang ruang. Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikannya. Tampaknya memang demikian, hanya saja dia tidak mau berterus terang.

Justru itu kesempatanku untuk memandangi dirinya seutuhnya. Kuamati wajah gadis ini. Kecantikannya khas. Bukan kecantikan pasaran yang mudah ditemui di iklan-iklan kecantikan dan sinetron-sinetron bikinan dalam negeri. Bila disandingkan dengan Phine, keduanya punya nilai lebih dan kurang.

Menurut pengamatanku selama ini, Rosalia lebih menghentak-hentak. Mudah mengungkapkan keingintahuan sekaligus mudah berdiam diri supaya orang tidak bisa menemukan isi hatinya yang sesungguhnya. Keberanian atau terobosan-terobosannya selalu memancing ide-ide kreatif.

Waktu pertama kali aku mengenalnya, belum apa-apa aku sudah dikritik habis-habisan. Mulai dari penampilanku, dasiku, gulungan kemeja lengan panjangku, rambutku, gaya bicaraku, penguasaan materi ketika mempresentasikan makalah seminar, penguasaan atmosfir seminar sewaktu aku jadi moderator, dan lain-lain.

Dari Rosalia aku banyak berubah, terutama performance dan sikap intelektualku. Dia memang sanggup menggiring semangatku untuk tampil lebih mantap dalam forum-forum resmi dan berkualitas. Kalau memiliki istri seperti Ocha ini, wah, hidup jadi kreatif.

Sedangkan Jousephine memang tipe gadis tenang. Meskipun matanya tidak dapat membungkus realitas hatinya, tetapi dia lebih membiarkan pikirannya menimbang-nimbang. Sikapnya tenang, tidak mudah mengumbar emosi. Pembawaannya yang tenang inilah yang kusukai darinya. Kalau punya istri model Phine, ah, tidak bakalan banyak ributnya.

Akan tetapi, hingga sekarang aku tidak berhasil memahami harapan-harapan kedua gadis tersebut yang sesungguhnya. Apakah salah satu atau justru kedua-duanya diam-diam menaruh hati padaku? Atau, justru aku yang telah mencintai kedua gadis itu. Waduh, jangan-jangan aku telah terjebak oleh permainan mereka berdua. Semoga tidak.

Malam itu, sepotong bulan menggantung di langit.

*****

Yogyakarta, 15 Mei 2000

[cerpen ini dimuat di Harian Pagi Bangka Pos, edisi Minggu, 23 Juli 2000]

                                              dipajang pada pukul <$BlogItemDateTime$>


ANTOLOGI CERPEN KEDUA AGUSTINUS WAHYONO

TALI YANG RAPUH

Dari pelabuhan Mentok, mobil angkutan yang ditumpangi Agus singgah di Kelapa selama satu jam, sebelum melanjutkan perjalanan lagi menuju Pangkalpinang. Rute perjalanan rutin. Agus menikmati sekali. Ia baru kali ini bisa menjejakkan kakinya di Bangka. Ia melangkah, memasuki rumah makan “Cubekaterai”.

Mata Agus menyapu tiap sudut dan bidang ruang. Terakhir, matanya tersangkut pada sosok gadis yang sedang asyik bercanda lewat telepon genggamnya. Orangnya cantik, kulitnya kuning bersih, berpenampilan rapi dan lincah. Alangkah girangnya gadis itu bersama benda telekomunikasi tersebut. Kalau tidak mengirim SMS, ya bicara di situ.

Aok, tunggu bai luk. Sabarla, Bang.” 1)
Gadis itu mendengar suara entah dari mana. Mungkin ia sedang ngobrol dengan kakaknya atau malah pacarnya, tebak Agus.

Dak lame be. Denget agik kunyampai. Paling lambet due jam agik la. Soale sopir oto e tengah makan. Abang nek oleh-oleh kelapo sawit, dak? Ha ha ha ha....” 2)

Agus memandangi gadis itu terus.Tawanya renyah, suaranya bening, matanya cerah, rambut panjangnya indah tergerai dan senyumnya manis sekali. Agus berjalan mantap membawa barang-barangnya. Dia memberanikan diri menuju meja gadis itu, dan duduk dengan santai. Beberapa mobil angkutan sudah siap berangkat ke Pangkalpinang.

Agus meletakkan barang-barangnya dengan hati-hati. Ia membuka jaketnya, menarik kursi, dan memasang jaketnya di sandaran kursi. Dengan santai duduk di situ.

“Dadah, Bang. Sampai ketemu kelak, muuuuuach!” ucap gadis itu menyudahi bincang-bincang riang dengan ponselnya. Gadis itu beralih memandang Agus.

“Mbak dari Jakarta?” tanya basa-basi Agus.

“Iya,” jawabnya dengan tersenyum manis. “Aslinya sih orang Belinyu. Cuma, saya bekerja di Pangkalpinang. Kemaren ke Jakarta cuma lima hari. Urusan dinas.”

“Ooo, kukira Mbak bekerja di Jakarta,” kata Agus sambil mengagumi kulit gadis Belinyu yang kuning terang itu. Gadis asli Bangka kulitnya kuning bersih, batin Agus.

“Abang dari mana?”

“Aku dari Jawa, Jawa Tengah, tepatnya Kutoarjo. Aku asli orang Jawa. Aku keluar dari pekerjaanku. Aku sudah ngelamar kerja di sini. Tinggal tunggu panggilan.”

Tiba-tiba muka gadis itu berubah kecut. Dia terburu-buru menuju toilet. Spontan Agus bingung. Lalu Agus mengeluarkan minyak anginnya. Beberapa menit kemudian gadis itu keluar, kembali ke meja mereka. Mukanya agak pucat.

“Sorry, saya tiba-tiba mual sekali.”

“Masih mabuk laut ‘kali.”

“Mungkin aja sih. Di kapal saya nggak doyan makan. Maklum, saya belum biasa keluar Bangka,” katanya dengan berusaha tersenyum ramah. “Tadi Mas mau nanya apa?”

Wah, tadi “abang”, sekarang “mas”. Agus tersenyum dalam hati..

“Pernah ke Kutoarjo?”

“Nggak. Namanya pun baru sekarang saya dengar.”

Agus jadi malu hati. Nama Kutoarjo ternyata tidak setenar yang dibayangkannya.

Suasana rumah makan itu memang sedang ramai. Para pemudik tumpah ruah di kawasan peristirahatan sementara angkutan antar kota itu. Mereka memakai kesempatan jeda tersebut untuk makan, minum, buang air kecil, sholat, cuci muka, mandi, membeli oleh-oleh dan lain-lain.

“Waktu di kapal, kok aku nggak melihat Mbak, ya?”

“Lho, Mas di kelas berapa?”

“Aku di kelas ekonomi lemah, lantai bawah. Mbak di mana?”

“Saya ada di kelas satu, Mas. Bukannya apa-apa sih, tapi fasilitas kantor.”

“Emangnya Mbak bekerja sebagai apa?”

“Jadi Sales Promotion Girl telepon seluler di Pangkalpinang,” jawabnya dengan mimik muka mempesona. “Saya maunya sih kuliah dulu, begitu. Tapi ortu nggak punya duit banyak untuk biaya kuliahku. Mending kerja aja. Nggak rugi juga bekerja. Lumayan bisa nabung dan belajar mandiri, sebelum berkeluarga.”

Agus mengangguk-angguk. Pantesan bawaannya ponsel dan akrab banget dengan benda modern itu, batin Agus. Juga ramah, dan menyenangkan. Kalau dia kuliah, cocoknya dia ini mahasiswi jurusan Public Relation.

“Oh iya, kenalkan, nama saya Anna,” katanya sambil menyodorkan tangannya.

“Oh...,” sambut Agus gelagapan, “Agus. Agus aja. Singkat dan sederhana.”

“Mmm...Maaf, saya boleh nanya?” tanya gadis itu dengan roman yang tetap cerah.

“O, silakan, silakan.”

“Menurut Mas Agus, saya ini genit, nggak?”

“Nggak. Bener, nggak,” ujar Agus. “Emangnya kenapa?”

“Saya, kan, seorang SPG yang terbiasa beramah-tamah dengan calon pembeli dan para langganan. Beberapa orang bilang, saya ini terlalu genit dan memancing selera pria,”

“Ah, itu, kan, penilaian orang-orang yang kurang bahan omongan aja. Mungkin mereka iri. Kamu ramah dan selalu tersenyum sesuai tuntutan profesimu. Kalau kamu cemberut dan dahimu berkerut-kerut, ya calon pembeli bisa minggir, nggak sudi mampir dong. Terus, kamu nggak mencapai target penjualan. Terus, gajimu tidak naik-naik.”

“Terus, terima kasih, Mas,” penggal gadis itu seraya tersenyum manis.

Agus pun membalas senyuman itu. Ia menikmati senyum itu. Betapa aduhainya.

“Eh, Mas, sorry, ya, saya berangkat duluan. Mobilnya sudah siap jalan tuh,” pamit Anna tergesa-gesa seraya beranjak dari tempat itu. “Sampai ketemu lain kali. Bye!”

“Oke, silakan. Sampai ketemu juga,” balas Agus mengantarkan ketergesaan gadis itu. Ia membantu mengangkat barang-barang gadis itu. Kebetulan tidak terlalu berat.

Ah, sayang dia harus cepat berlalu, guman Agus. Padahal aku belum menanyakan alamatnya yang di Pangkalpinang itu. Ehm, barangkali gadis-gadis Bangka memang modelnya begini. Cantik, berkulit bersih, lincah, ramah, terbuka, tegas, mudah bergaul dan nggak gagap teknologi.

***

Selama menunggu panggilan pekerjaan, Agus menumpang di rumah kawannya, Onoy. Agus cepat beradaptasi dengan keluarga Onoy. Juga dengan tetangga-tetangga sekitar rumah Onoy, termasuk gadis-gadis dari beberapa daerah lain karena ia suka bepergian serta keluar-masuk beberapa kantor besar-kecil untuk melamar pekerjaan. Rina, Atik, Weni, Sinta, Betty, Candy, Etha, Lena, Tiyar dan beberapa nama lainnya.

“Wah, gadis-gadis Bangka ini cantik-cantik dan kulitnya kuning langsat,” puji spontan Agus ketika ia dan Onoy duduk santai menikmati acara tipi di ruang keluarga.

“Ehm, tampaknya kawan satu ini telah menemukan bunga-bunga Bangka yang sedang mekar-menawan hati,” seloroh Onoy. “Kau telah kenal salah seorang atau malah sukses mengoleksi beberapa dayang 3), Gus?”

Agus tidak menyahut. Dia pura-pura mengisi TTS di halaman dalam koran lokal.

“Ayolah, berapa dayang yang telah membuat hati lajangmu berdendang riang gembira itu?”

“Ah, Onoy. Aku sekedar berkawan dan bersosialisasi kok. Lumrah, kan?”

“Tapi sembile 4) hari, kata biniku 5) , beberapa kali orang nelpon ke sini, mencarimu,” kata Onoy sembari mengingat-ingat sebuah nama. “Aduh, siapa, ya. Soalnya selain dia, masih ada pula yang mencarimu. Kalau nggak sore, setelah maghrib atau sekitar jam sembilan malam. Gadis semua! Wah, wah, wah, sudah mulai gandeng sana-sini rupanya.”

“Kamu ini, Noy, Noy, sudah main curiga nggak karuan begitu. Aku, kan, memang sering berkomunikasi dengan banyak orang. Dan aku penasaran untuk tidak mengenal mereka. Maklumlah, aku ini orang baru, sedang nyari pekerjaan. Mumpung belum repot terjebak rutinitas pekerjaanku. Jangan tergesa-gesa berprasangka, Kawan,” kilah Agus.

“Kuakui, gadis-gadis Bangka memang ... ehm,” lanjutnya. Bulan di luar berseri.

“Oh iya, Gus,” sekonyong-konyong istri Onoy nimbrung sambil membawa tiga cangkir kopi Bangka dan setoples kripik keladi, “tadi sore Suryani Tuhirman nelpon.”

“Nah, nah, nah!” potong Onoy dengan tangan yang sigap menggapai toples.

“Trims, Njel,” jawab Agus sewaktu Enjel meletakkan kopi itu di depan Agus.

“Dia nggak nitip pesan khusus. Katanya sih, dia kelak mau nelpon lagi.”

“Eh, Gus, jangan bikin malu aku. Dia itu bini orang, tahu!” celetuk Onoy.

“Aku tahu, Noy. Kamu nggak usah khawatir,” jawab Agus. “Justru kemarin kami berfoto bareng suami dan anak-anak mereka di pantai Tanjung Pesona. Waktu itu tustel mereka ketinggalan di rumah. Kebetulan aku sedang motret-motret panorama pantai Bangka untuk dokumen pribadi. Terus, suaminya minta tolong aku motret mereka, setelah kami berkenalan dan dia kenal banget denganmu, Noy. Katanya, Suryani itu dulu kawanmu waktu SD-SMP, Noy?”

“Iya, kawan baik. Cantik, kan, orangnya?” goda Onoy.

“Ah, kamu mulai lagi. Dia itu bini orang, tahu!” balas Agus.

***

Selepas siang sepulang dari kantor, Onoy mengajak Agus menikmati es gosok kesukaannya. Ia memperkenalkan menu lokal yang selama ini belum pernah menyentuh lidah jawa Agus. Selain itu, sebetulnya ada masalah pelik yang harus dibicarakannya dengan Agus. Ia sudah berusaha keras menutup rapat-rapat kasus yang dialaminya. Mungkin beberapa orang, rekan kantor, relasi bahkan istrinya sendiri sudah tahu.

Mereka mengambil posisi di pojok warung, agar dapat lebih leluasa ngobrolnya.

“Gus.”

“Ya, Noy, ada apa?”

“Terus terang, tapi jangan bilang-bilang, ya,” ungkap Onoy. “Aku punya masalah yang nggak main-main. Aku bisa pura-pura berseri-seri di depan biniku, padahal hatiku gelisah minta ampun. Sungguh, Gus, ini perkara serius! Mau, nggak, kau menolongku?”

“Mau sih, asalkan semampuku. Tapi, apa dulu yang bisa kutolong.”

“Begini, Gus. Aku sudah beristri dan beranak tiga. Orang melihat keluarga kami rukun. Kau sudah lihat sendiri, kan, betapa harmonisnya keluarga kami. Aku dilarang berpoligami. Nah, aku punya kawan, seorang gadis.”

“Ooo, gadis intim lain atau disingkat ‘gila’, maksudmu?” tebak Agus.

“Ya, begitulah.”

“Terus, kamu cinta setengah mati padanya? Terus, kamu pengen kawin lagi?”

“Lebih dari cuma cinta setengah mati. Sekarang dia...,” kata Onoy seraya menggerakkan tangannya membentuk setengah lingkaran di perut. Lalu dua jemarinya diangkat. Bukan tanda “victory” (kemenangan) atau tanda “peace” (damai). Bahasa isyarat yang artinya bunting dua bulan.

“Waduh, Noy!” seru Agus terbelalak. “Kamu ini ngawur nggak ukur-ukur! Sudah lulusan sekolah di Jawa, punya bini, anak tiga, malah kini... Bener-bener ngawur!”

“Sstttt...tenang-tenang, jangan panik dulu. Kau mau nolongin aku, nggak?”

“Nyari dukun atau ramuan penggugur kandungan? Nggak, Noy. Nggak boleh! Jangan edan, Noy. Umur seminggu, sebulan atau berapa bulan kek, embrio itu sudah hidup. Sejak terjadinya pembuahan, otomatis sudah terbentuk kehidupan baru. Dia sudah menjadi manusia, meski tinggal sementara dalam rahim ibunya. Apalagi sudah sampai dua bulan! Kamu jangan menabung dosa, Noy. Sudah berzinah, mau membunuh pula.”

“Sstttt... Nggak usah sewot begitu. Maksudku, kau nikahin gadis itu. Bawa pulang ke Jawa, kan, aman. Orang daerahmu nggak akan tahu-menahu persoalan ini. Ongkos pulang ke Jawa, pernikahan kalian, pemenuhan gizi ibunya dan kelahirannya kelak biar aku saja yang membiayai dari sini. Kau tinggal ngasih nomor rekeningmu, tunggu telpon dariku. Bereslah setiap bulannya. Kita bikin perjanjian, Gus. Lagi pula, gadis itu betul-betul ... Pokoknya, sip! Nggak bakal ngecewain. Yakin deh! Mumpung ada gadis sebaik dia. Umurmu makin tua, jodoh belum dapet-dapet, jadi bujang lapuk lho.”

“Gagasanmu tambah ngawur lagi!” sergah Agus terkejut. “Kamu yang berbuat, tanggung jawab dong! Pria macam apa sih kamu ini. Sudah tahu kalau nggak ada kompromi bagi poligami, masih saja nekad mengumbar berahi di mana-mana.”

Pikiran Onoy berputar sejenak. Suasana warung itu tidak terlalu ramai.

“Gus, kalau kau bersedia, ini berarti kau sudah menolong keluargaku, masa depan anak-anakku, menolong masa depan ibu dan anak itu. Kasihan, kan, kalau anak itu lahir tanpa ayah dan nggak punya akte kelahiran, atau ibunya dicap macam-macam. Orang di kampungmu mana mungkin tahu masa lalu gadis itu. Katanya, kau ini kawanku. Kita dulu akrab waktu di Jawa. Kau paling sedih melihat perempuan disia-sia,” bujuk Onoy pelan.

“Ngomong ‘kasihan, kasihan’. Waktu kamu merayu gadis itu, apa pernah kamu merasa iba sedikit pun jika kelak bakal menyengsarakannya? Pokoknya tidak! Kamu wajib menyelesaikan persoalanmu sendiri,” tandas Agus. “Kamu ini pun kawan model apa, ngasih bekas dan melimpahkan tanggung jawab ke kawan. Nggak, ya, sorry!”

Beberapa pasang mata melirik ke arah dua sahabat ini. Onoy terdiam. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu menghela lepas-lepas. Sekilas kekecewaan tercetak di wajahnya. Lantas, ia berusaha tenang. Masalah belum final. Dia masih mencari-cari kapan saatnya untuk membujuk Agus lagi. Diliriknya arloji di tangannya. Ia teringat sesuatu.

“Ya sudah, Gus. Aku pergi dulu deh, mau menjemput dia. Dia sudah pulang kerja. Kasihan gadis itu rumahnya jauh dan kasihan kandungannya juga.”

“Kerja di mana, Noy?” bisik Agus.

“Di mal,” kata Onoy seraya ngeloyor. “Nanti aku ke sini lagi kok. Tunggu aja sebentar. Sedenget bai. Lagian, kan, aku belum bayar semua.”

Di mal? Jadi pramuniaga? Pramuniaga mal biasanya cantik-cantik, ramah dan bersih, batin Agus. Penampilan mereka selalu enak dipandang. Jelas aja si Onoy ini terpikat. Tak jarang tuntutan profesi pramuniaga menghendaki penampilan serba mewah, melebihi kemampuan upah bulanan. Kalau soal duit, Onoy memang lebih dari sekadar mampu. Saban bulan ia biasa memborong barang-barang kebutuhan keluarganya. Mungkin gadis itu tertarik pada Onoy lantaran Onoy terlalu royal, apalagi tampang dan tutur kata Onoy sangat memungkinkan disukai gadis-gadis.

Tapi, dasar keterlaluan bener si Onoy ini, celoteh hati Agus sambil menggeleng kepalanya. Istrinya cantik, baik, mudah bergaul dan berwawasan luas, kok ya masih kurang. Lantas ajaran agamanya dikemanain sih. Payah, payah kawan satu ini!

Tapi, kalau memang pacar gelapnya itu cantik, seksi, terpelajar, wajarlah Onoy jadi kurang ajar, pikir Agus. Nah, kalau ternyata gadis itu cewek murahan, materialistis, wawasan serta pergaulannya berkisar pada seks melulu, wah, wah, wah, bener-bener tragedi seumur-umur! Aku curiga, jangan-jangan... Ya, gadis itu pasti main pelet!

Ah, sampai hati betul perempuan itu menyakiti hati sesama jenisnya, gerutu Agus. Lha wong para aktifis feminisme sudah berteriak-teriak lantang soal tindak kesewenang-wenangan kaum pria, perempuan satu itu justru merampas kebahagiaan kaumnya. Lantas, gadis begini diserahkan padaku? Maap-maap aja deh. Mending tetap jadi bujang lapuk!

Dasar perempuan nggak beres, asal serobot suami orang aja, guman Agus. Tapi, aku ditampung keluarga Onoy. Di mana balas budiku? Waduh duh duh...

Agus terus menikmati sisa-sisa es gosok dan otak-otaknya seraya pikirannya bingung memutuskan antara prinsip dan persahabatan. Sementara tak berapa lama suara mobil Onoy sudah kembali. Sebab, memang jarak antara warung itu dan mal tidak jauh.

Onoy dan pacar gelapnya menuju bangku Agus. Kebetulan arah duduk Agus membelakangi kedatangan mereka. Agus sengaja tidak berbalik. Ia kuatir terkena kemat.

“Gus,” panggil Onoy diiringi dengan menepuk pundak Agus. “Kenalkan ...”

Agus berbalik, mendongak. Anna rupanya!

*******

jogja, desember 2001

Keterangan:
1) Aok, tunggu bai luk. Sabarla, Bang = Iya, tunggu saja dulu. Sabarlah, Bang
2) Dak lame be. Denget agik kunyampai. Paling lambet due jam agik la. Soale sopir oto e tengah makan. Abang nek oleh-oleh kelapo sawit, dak? = Tidak lama dong. Bentar (sedenget = sebentar) lagi aku sampai. Paling lambat dua jam lagi deh. Soalnya sopir mobilnya tengah makan. Abang mau oleh-oleh kelapa sawit, tidak?
3) Dayang = gadis
4) Sembile = kapan
5) Biniku = istriku

[cerpen ini dimuat di harian Bangka Pos, edisi Minggu, 3 Maret 2002]

                                              dipajang pada pukul <$BlogItemDateTime$>


ANTOLOGI CERPEN KEDUA AGUSTINUS WAHYONO

KENAPA MEREKA SUKA MENGGODAKU

Surya timur datang lewat jendela kamarku sekonyong-konyong menampar pipiku. Ini gara-garanya biniku telah mengundangnya masuk semenjak fajar menggugah unggas kami di kandang. Bagaimana pun aku harus bangun. Ya, rejeki pagi akan segera pergi jika kita tak cepat-cepat mencegatnya di mana pun sewaktu kita bersua dengannya. Sedangkan tidur berlebihan dapat membuat si rejeki balik lagi atau malah dipungut rekan sendiri.

Tapi hari ini aku sedang libur kerja selama sehari saja. Besok dan seterusnya sudah kerja lagi. Satu minggu aku dapat jatah libur dua kali, Minggu dan hari tertentu dalam seminggu. Enak? Tergantung dari kacamata siapa yang melihat keadaan kerjaku! Makanya, mending tidak perlu mengulas soal enak-tidak enaknya itu. Pasalnya, ada beberapa masalah baru yang telah membuat hidupku benar-benar aneh. Aneh? Oh iya!

Awalnya begini. Selepas bangun tidur, aku menuju kamar mandi di belakang rumahku. Kamar mandi kami biasa saja. Kamar mandi kampung. Dindingnya dilukisi oleh lumut. Empat payung jamur mekar di sudut, dekat pembuangan air. Ada lubang untuk memasukkan air ke bak air dari timbaan air perigi di sebelah kamar mandi. Bingkai pintunya telah lapuk sehingga daun pintu dari seng itu terpaksa cukup dipindah pakai tangan. Kira-kira begitu. Tapi, alangkah terkejutnya aku ketika aku berpapasan dengan Mandra yang baru keluar dari kamar mandi kami!

Maap, Bang, aye kelamaan mandinye,” katanya seraya cengar-cengir.

Aku justru nyaris pingsan! Lidahku kaku. Mataku beku. Mimpi ‘kali ye?

Peduli amat. Aku melangkah masuk ke kamar mandi, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Mungkin akibat kebanyakan nonton tipi semalam. Si Mandra pun entah sudah ngacir ke mana setelah seenaknya memakai kamar mandi kami itu. Begitulah awalnya.

Selanjutnya, kejadian di dalam kamar mandi. Aku melihat Sophia Latjuba asyik berendam di bak mandi kami yang hanya berlapis semen kasar itu. Ia tengah menyabuni tubuhnya. Gawat! Sontak aku menjadi patung. Mataku seakan-akan hendak meloncat keluar. Aku lupa bahwa badanku hanya dililiti handuk yang sudah bolong sana-sini.

Semula dia tersenyum menggoda. Tapi ketika aku mencubit lenganku sendiri untuk memastikan kenyataan, tiba-tiba dia lenyap. Mungkin takut kucubit. Mungkin ditelan air bak mandi. Lalu kuambil peralatan mandi yang terkumpul dalam gayung. Di situ ada sikat gigiku yang sudah agak rontok dimakan gigiku. Sikat gigi keluargaku, odol, sabun, sebungkus sampo yang telah terkoyak. Kukeluarkan sikat gigiku, odol dan sabun.

Aku was-was, jangan sampai nanti muncul juga si Tasya sedang berkacak pinggang sembari bilang “iiih, jorok!”. Untunglah tidak terjadi. Kupercepat prosesi bersih-bersih badan selagi pagi masih membelai tubuh legamku. Apalagi ketika kudengar lamat-lamat senandung pagi tetanggaku yang akan memandikan anaknya serta akan mencuci peralatan makan dan masak. Maklum, satu perigi untuk dua rumah.

“Abang tak kerjakah?”

“Tengah libur sehari, Yuk. Besok masuk lagi.”

“Ooo…”

Lekas kutinggalkan dia dan anaknya itu sembari aku bersiul-siul ringan. Segar sekali pikiranku setelah kubasahi sekujur tubuhku dengan air dan sabun. Aku masuk ke rumahku lewat pintu belakang sekaligus masuk dapur.

“Bang, aku mau ke toko Bik Mina sebentar, beli kecap,” kata biniku ketika aku setengah masuk dapur lewat pintu belakang tadi. Dia langsung pergi.

Tak perlu kusahut. Aku terus saja bersiul lagi dan melangkah ke kamar hendak berganti pakaian. Kubuka lemari pakaian kami. Astaga! Ada Ari Wibowo, Ajie Massaid, Itang Yunaz, Dona Karun, Ratih dan para model lainnya di dalam lemari pakaianku.

“Hallo...” sapa mereka serempak

Ya ampun! Langsung kuhempaskan pintu lemari pakaian itu. Tak lupa kutengok ranjang kami. Aku kuatir si Jiehan Fahira telah pula duduk di ranjang kami. ‘Kan gawat!

Kuseret kakiku ke arah dapur melewati koridor yang di dindingnya biasa dipakai untuk menggantung pakaian kemarin atau yang sudah kering. Kuambil satu. Segera aku berpakaian di situ. Sebentar kemudian usus perutku merengek. Adat usang. Minta diisi. Entah dengan kopi pahit beserta sepotong singkong bakar berlauk ikan asin bakar. Entah dengan teh tawar serta selembar koran kemarin yang kuambil dari tempat parkir di tempat kerjaku. Aku menuju dapur yang satu ruang dengan ruang makan kami.

Waduh, ke mana biniku nih. Beli kecapnya koq lama banget. Apa warung Bik Mina sudah pindah ke kampung seberang sungai ya? Ah, dasar perempuan. Cuma beli kecap saja bisa satu paket dengan urusan arisan, PKK, belanja, kredit panci atau apalah.

Aku duduk di meja makan sembari memegangi gelas berisi kopi pahit yang telah dibuatkan biniku sewaktu aku mandi. Meja belum beraroma masakan. Debu atau abu pun tak kulihat tidur di meja makan. Hanya ditunggui oleh sekeping piring yang khusus untukku, untuk seorang ayah. Kubiarkan pikiranku tergeletak di meja makan.

Sayup-sayup kupingku menangkap senandung seorang perempuan. Mungkin biniku sudah kembali. Mungkin dia mendapat kecap dengan potongan harga. Mungkin dia boleh menambah angka-angka dalam buku daftar utang di warung Bik Mina.

Tak kusangka, Krisdayanti muncul di sampingku sembari nyanyi “mencintaimu”! Spontan kututup mukaku. Aku tak mau melihatnya. Lebih-lebih ketika suara-suara artis lainnya yang bercanda ha-ha-ha disertai dentingan garpu menyentil piring di lubang telingaku. Aku tidak mau melihat mereka. Tidak mau! Dan, selepas itu tidak ada suara apa-apa, kecuali bebek-bebek yang tertawa terbahak-bahak di kandang kami.

Kubuka lagi tanganku perlahan-lahan. Samar-samar hanya tampak kompor minyak yang teronggok. Kuali dan panci yang bergelantungan di dinding. Ah, aman.

Memem yuk!” tiba-tiba muncul suara di saat tanganku belum seluruhnya turun. Paramitha Rusady!

Macam mana bisa masuk selagi biniku belum masak di dapur!

***

Tok! Tok! Tok!

Wah! Tok Tok Wow? Yang bener aja, gumanku di tempat tidur.

“Abang ada di kamar. Tunggulah sebentar,” begitu kudengar suara biniku.

“Baiklah.”

Berikutnya terdengar daun pintu kamar kami dikuakkan. Kupicingkan mataku. Tubuh biniku mendekat, lalu duduk di ranjang, sejajar dengan tubuhku.

“Bang, bangun, Bang,” gugah biniku. “Ada tamu.”

Aku langsung bangkit. Merapikan diri di meja dandan biniku yang kacanya tinggal separuh lantaran separuhnya lagi kuberikan untuk kamar anak-anakku.

“Kautemani mereka bercakap sejekap-dua kejap dululah,” kataku.

Biniku segera menuju ruang tamu lagi. Istirahat siangku telah berakhir.

Di ruang tamu ada dua pria sedang ngobrol dengan biniku. Pakaian mereka serba biru laut. Aku tak perlu lama-lama berkaca seperti para pesolek kampung kami.

“Pak, mari ikut kami ke rumah sakit,” kata seorang dari mereka seraya tersenyum.

“Ke rumah sakit? Aku nggak sakit.”

“Bagaimana ini, Bu?” tanya satunya kepada biniku.

“Bang, kita berangkat ke rumah sakit dulu yuk,” ajak biniku ke arahku.

“Kayak kurang kerjaan aja. Aku ‘kan nggak kerja di rumah sakit macam mereka. Aku pun sehat kok. Lihat nih,” aku keluar dari kursi lalu push up, “tuk-wak…hap!”

Kedua petugas itu saling berpandangan. Aku pun memandang biniku. Dua anakku mengintip dari balik pintu, lalu masuk dan segera beringsut memeluk biniku.

“Aku tidak sakit,” kataku perlahan dan nadanya agak kutekankan, karena kedua anakku yang baru pulang sekolah itu terus memeluk biniku.

“Bang, ...”

Kulihat mata biniku berkaca-kaca, lantas pecah menjadi air yang mulai mengalir bagai mata air. Dua anakku yang masih berseragam SD ikut menangis. Kutengok jendela, tampak kendaraan kedua tamu kami itu. Barulah aku mengerti.

“Siapa sih yang gila? Orang nggak gila, malah dibawa ke rumah sakit jiwa!”

“Bang, …,” sela biniku. Kedua anakku pun menatapku.

“Mana pernah ada orang gila yang mengaku dirinya gila? Mana ada orang mabuk yang berkata ‘aku sedang mabuk’?” bisik mereka satu dengan yang lain.

“Benar,” jawab mereka sendiri.

“Aku tidak mau masuk rumah sakit jiwa. Titik. Dengar! Kalian punya kuping untuk mendengar, kan? Kuping wajib dipakai sesuai fungsi, bukan untuk sekadar dekorasi kepala! Kalian ini petugas macam apa sih. Punya mata untuk melihat dan punya pikiran untuk menilai. Masak sih mau main ciduk sembarangan dengan mengatasnamakan surat perintah yang semena-mena itu. Siapa yang menyuruh kalian kemari?!” bentakku kasar.

Sebenarnya aku tak hendak bilang macam itu. Menurutku sendiri, kata-kataku tadi terlalu keras, terlalu menyinggung perasaan. Tapi aku tak peduli. Bagiku, apa pula hak mereka untuk tersinggung atas ucapanku, dibanding dengan sikap dan kata-kata mereka yang langsung memvonis diriku ini sebagai orang gila. Vonis itu justru tidak manusiawi. Melanggar hak azasi. Melanggar sopan-santun bergaul antarmanusia. Mereka betul-betul tidak menganalisa efek terhadap psikologi massa.

Mereka saling berpandangan. Keduanya memandang biniku.

“Bang, aku tadi yang melapor. Mending kita ke rumah sakit aja dulu, Bang.”

“Kita? Ke rumah sakit?” Kedua alisku berkerut ke tengah.

Biniku mengangguk dengan senyum yang amat-sangat dipaksakan.

“Tidak, Sayangku. Kita ini tidak sakit. Atau, justru Adik yang tengah sakit?”

Biniku menggeleng. Katanya, “Tapi Abang, kan, tengah sakit.”

“Abang? Sakit? Ah, apa pasal kau bilang ‘Abang sakit’?” tukasku. “Malahan seharusnya mereka-mereka ini yang balik lagi ke rumah sakit jiwa itu. Mereka yang harus memeriksa dirinya sendiri, sebelum menuduh orang lain ‘gila’. Dasar!”

“Bang, minggu lalu Abang bilang, jumpa Mandra, Krisdayanti, Rano Karno, Sophia, Paramitha Rusady... Sejak saat itu pula tipi kita hilang. Kami nggak tahu sudah Abang kemanain.”

Tipi? Ya, di mana kini kotak kaca itu berada, pikirku. Aneh, kok tiba-tiba bisa menghilang. Lantas, apa hubungannya dengan keadaanku saat ini? Apa karena aku semalam terlalu banyak nonton tipi? Tapi ‘kan tidak setiap hari aku bisa menikmati tayangan tipi. Kerja berangkat jam 07.00 pagi dan pulang jam 15.00. Pulang pun tidak langsung nongkrong di depan tipi. Lalu, malamnya, aku segera masuk kamar. Jam 20.30 aku telah sampai dalam mimpi-mimpi mutakhir. Lha, apa urusannya tipi dengan masalah aneh ini? Kalau hilang, semisal dicuri, seharusnya lapor ke kantor polisi, bukannya malah melapor ke rumah sakit jiwa. Ah, bikin tambah pening saja!

Kupandangi muka biniku yang tenggelam oleh air matanya. Makin tak sampai hatilah aku ini jika dia sudah bersimbah air hangat itu. Iba hatiku dibuatnya, terlebih suara tangisnya semakin nyaring. Anak-anakku pun meraung-raung. Tetangga-tetanggaku bergerombol di halaman rumah. Aku semakin salah tingkah.

“Bang, kita periksa aja ke rumah sakit dulu, ya, Bang. Kalau ternyata Abang nggak sakit, kita bisa pulang lagi. Ya, Bang? Bisa, kan, Bang? Mau, ya, Bang... ”

“Nggak maulah Abang, Dik. Abang nggak akan ke bengkel orang tak waras itu. Janganlah kau ikut-ikutan gila macam mereka itu. Abangmu ini mana mungkin gila. Abang masih waras bahkan sangat waras.”

Biniku tidak menjawab. Bibirnya mencong sana-sini. Mulutnya hanya bisa bilang “Bang” tapi tanpa suara. Kedua anakku menyembunyikan muka di daster lusuh biniku. Kedua orang ‘penjemput’ itu duduk dalam posisi siap ciduk.

“Dik, apa sampai hati kau lihat Abangmu ini berpindah rumah ke sana? Apa kau bangga punya laki orang gila? Abang begini ‘kan gara-gara para pesohor itu, terus langsung divonis ‘gangguan jiwa’ oleh petugas rumah gila itu. Mendingan kau anggap kedua tamu ini yang gila, karena mereka memang saban hari ada di sana.”

Lagi-lagi biniku menjawab dengan mulut mencong dan muka serba basah.

Lamat-lamat kulihat muka biniku berubah. Kuperhatikan lagi. Mulai muncul wajah wanita yang lain. Pelan-pelan menguasai muka biniku…. Muka wanita lain…

Oh, tidak… tidak… jangan, kenapa mereka suka menggodaku, batinku.

Muka pelantun lagu “Gelas-gelas Kaca” muncul di situ… berganti lagi dengan muka-muka pelantun lagu “Pulangkan Saja”… ada pula “Kereta Senja”... muka artis-artis pelantun lagu pop masa lalu yang pernah membawakan lagu-lagu cengeng yang masih sering diputar para sopir di kecamatan. Lalu muka basah artis-artis sinetron, video clip dangdut, artis India, artis telenovela…

Ya Tuhan! Macam mana pula muka mereka itu bisa nempel seenaknya sampai-sampai silih-berganti di muka biniku? Oh, tidak... Tidaaaaak!!

Aku lari keluar rumah. Kedua tamu kami segera mengejarku. Beberapa pria pun mengejarku. Adegan kejar-kejaran terjadi. Aku berlari semakin kencang.

“Toloooooooong!! Aku dikejar perampok!!” teriakku begitu supaya orang-orang segera menghambat kejaran mereka. Bila perlu, para pengejar itu dihajar saja habis-habisan. Bila perlu, dibakar hidup-hidup! Sekalian saja, biar mereka jera mengejarku.

Orang-orang di sekelilingku hanya menonton dengan mulut melongo atau saling berbisik. Aku semakin mempercepat lariku. Aku semakin pontang-panting dan berlari zig-zag tak karuan. Ya, aku makin merasa terjebak adegan film, kejar-kejaran dan orang-orang sekitar cuma figuran yang tampak hidup serba ‘lu, lu; gue, gue’.

Akhirnya saluran udara di tenggorokanku tercekat. Nafasku tiba-tiba lenyap. Tenagaku pun menguap. Tapi aku tetap ingin berlari, berlari, berlari, sampai .... Tiba di pertigaan jalan, lariku terhenti. Duagh!!! Aku menabrak sebuah mobil yang sedang parkir. Serta-merta mataku dijejali ribuan kunang-kunang. Pening sekali.

“Bang! Bang! Bangun, Bang!” seorang pria berusaha menggugahku.

Antara sadar dan tidak, aku membuka mata sedikit. Astaga, Si Doel! Juga ada si Cantik, Cornelia ‘Sarah’ Agatha! Aku terbelalak. Lalu mataku jadi gelap gulita.

***

Aku membuka mata setelah kudengar ribut-ribut orang berpakaian biru laut sibuk menggotongku. Aku terjaga, namun tanganku terikat di kereta dorong rumah sakit itu.

“Dia sudah sadar.”

“Ya, biarkan saja.”

Lidahku masih tidur. Hanya mataku yang hinggap pada orang-orang di sekitar lingkungan asing ini. Laki-laki, perempuan. Pada bengong. Ada yang tersenyum ganjil. Ada pula yang tak peduli sama sekali.

Aku di mana ini, keluhku.

Aku dengar nafas memburu laksana orang yang sedang dikejar-kejar. Mereka menggiringku entah ke ruang apa. Aku tak tahu, karena aku pingsan lagi. Entah berapa lama. Apa peduliku. Orang pingsan, ya suka-suka-lah. Terserah mau pingsan di mana dan jam berapa. Belum ada peringatan ‘Dilarang Pingsan Di Mana Pun’.

“Bangun, Mas!”

Aku terkejut. Badanku dituntun dua orang.

Aku di mana ini? Suasananya tidak seperti di rumahku atau di puskesmas kampung kami. Tidak tercium aroma obat seperti kebanyakan rumah sakit. Pakaianku pun sudah berubah. Serba biru laut merata. Ah, peduli amatlah.

Tiba-tiba seorang pria mencegat kami. Mimik mukanya runyam sekali.

“Eee, ada kawan balu. Kenalin ya… Atu Encep! Jangan lupa ya. Nanti, nanti ... Encep kecini lagi. Encep mau cekolah dulu,” katanya langsung ngeloyor pergi.

“Alamaaaaaaaaaak!” spontan aku berteriak. Dunia terasa penuh sosok Cecep.

Seorang di antara perawat itu menyuntikkan sesuatu. Otakku mulai macet. Ototku layu. Badanku berangsur lemas. Mataku larut di lantai, lantas semua gelap.

Tak tahunya aku sudah terbaring di sebuah ranjang. Tapi bukan ranjang kayu buruk di rumah kami. Sayup-sayup kudengar dua orang sedang bercakap-cakap. Salah satunya adalah biniku. Aku hafal sekali nadanya.

“Begini, Bu, suami Ibu harus kami operasi,” tutur seorang pria itu.

“Apakah suami saya mengalami kanker otak atau kesalahan otak? Perasaan, suami saya nggak pernah kecelakaan sampai gegar otak deh, Pak Dokter.”

“Tapi kami harus mengambil sebuah tipi yang terperosok dalam kepalanya.”

“Tidaaaaaaaakkk!!” teriakku lantang dari dalam kamar pasien di sebelah ruangan bicara dokter dan biniku. Alangkah kagetnya aku ketika kupergoki seorang suster sedang merapikan selimutku. Seorang suster bisu yang muncul di sinetron itu!

*******

babarsariyogya, mei 2002

[cerpen ini dimuat di harian Bangka Pos, edisi Minggu, 22 Oktober 2002]

                                              dipajang pada pukul <$BlogItemDateTime$>


ANTOLOGI CERPEN KEDUA AGUSTINUS WAHYONO

RAYUAN PEDANG

Dinding ruang tamu rumah kakeknya Oji terpampang sebilah pedang melintang sepanjang satu meter. Bersarungkan kulit buaya, pedang itu memamerkan kegagahan dan dominasinya pada bidang dinding. Sementara hiasan-hiasan lainnya, misalnya panah, tombak, gading berukir atau tanduk rusa, seakan kalah pamor.

Oji terpana. Ada kekuatan gaib yang telah menancapkan pedang itu pada matanya. Serta-merta paras pedang itu menebas perhatiannya pada hiasan dinding lainnya.

“Warisan turun-temurun, dari buyut-buyutmu. Ini juga andalan Kakek ketika muda seusia kamu,” begitu kata mendiang kakeknya dulu.

Kakeknya memang bekas pejuang, gerilyawan. Dari jaman penjajahan Belanda, Jepang, agresi Belanda hingga pemberontakan kelompok anti-Indonesia, kakeknya tak pernah lepas dari pedang itu. Pedang itu selalu setia mewujudkan kehendak kakeknya. Usai semua pertempuran serta huru-hara masa lalu, pedang itu pun dipensiunkan, dan beralih tugas dan tempat. Setahun sekali, yakni malam 1 Suro 1), diturunkan dari singgasananya. Dimandikan dengan bunga-bunga dan diasapi dengan kemenyan.

Dalam benak Oji, pedang itu seakan sedang menawarkan sesuatu. Terus dan terus benaknya tertancap pada paras pedang itu. Pedang itu pun berusaha menembus kepala Oji untuk menguras isi pikirannya lantas menguasainya, dan untuk menorehkan kesan pada lempengan jiwa mudanya dengan segala kegarangannya.

“Pedang yang perkasa, sangat menawan,” pujinya.

Dia ingat sang kakek pernah bilang, “Kembang adalah makanannya. Kemenyan adalah napasnya. Dan, harus ada minumannya pula, yakni darah. Darah inilah yang membuat dia tetap segar, gagah, garang.”

Kayak apa sih pedang warisan ini? Oji penasaran. Pedang bersarung kulit buaya ini seakan menyimpan suatu kekuatan yang … ehm… menjanjikan.

Sekonyong-konyong pula terdengar bisikan gaib, “Inilah aku, kawan barumu. Kau tak’kan bisa berbuat apa-apa kalau cuma menontoni sekujur bajuku.”

Pesona dan bisikan gaib pedang itu telah menyihir Oji. Ia langsung maju mendekat ke tempat pedang itu tersampir. Lalu matanya menoleh ke kanan-kiri, mencari kursi. Tidak terlalu sulit untuk mendapatkan kursi kecil di ruangan itu.

“Hap!” akhirnya Oji berhasil menurunkan pedang itu dari gantungannya. “Busyet, beratnya! Bagaimana dulu kakek bisa sebegitu ringannya meletakkannya di situ ya.”

Baru kali ini Oji memegang pedang berbobot tujuh setengah kilogram itu. Namun Oji lebih tertarik pada pesonanya, bukan ukuran atau beratnya. Ditimbang-timbangnya sejenak. Ia memperhatikan sarung kulit buayanya, memperhatikan gagangnya dan setiap milimeter ukuran pedang itu.

Beberapa detik selanjutnya ia tertarik untuk mengeluarkan sang pedang dari sarungnya. Tangannya bergerak hati-hati. Dan, pedang pun terhunus dari sarung. Seketika kilauan baja menyambar-nyambar mukanya dan permukaan dinding ruangan.

“Wah, hebat!” serunya takjub.

Matanya mengamati sekujur benda tajam berkilau itu dengan seksama. Tak henti-hentinya ia berdecak kagum. Ya, kalau sebatas ditonton, pedang itu jelas mengalami perubahan fungsi. Barang maut bukan suatu dekorasi yang indah, tentunya.

Wujud naga terukir pada bidang kemilau baja itu. Buntut naga menghadap genggaman, sementara kepalanya mengarah pada ujung lancip pedang. Bagus sekali. Ukirannya sangat kontras dengan kemilau pedang yang menyambar-nyambar. Warnanya hitam. Hitam dari sisa-sisa darah yang tak bisa terkelupas.

“Akulah yang menghuni pedang ini. Akulah yang menghidupkan pedang ini. Akulah yang membuat pedang ini garang,” bisik sang naga ketika Oji merabai ukiran tersebut. Lidah api sang naga berusaha menjilat-jilat bara dalam gelora muda Oji.

Pantesan, guman Oji.

Tepat ketika ujung-ujung jemarinya menyentuh lekak-lekuk ukiran tersebut, suatu kekuatan langsung merasuki Oji. Oji tidak tahu bahwa ujung-ujung jemari, entah tangan maupun kaki adalah pintu keluar-masuk hal-hal yang tak kasad mata.

Setelah berhasil sepenuhnya merasuki jiwa muda Oji, lantas pedang itu berbisik, “Aku adalah lambang kepahlawanan semenjak membunuh telah dihalalkan. Kini aku pun siap sedia membantumu menuntaskan segala pertempuran hidupmu.”

“Boleh juga nih!”

“Tunggu apa lagi? Ayolah, aku haus. Sudah terlalu lama mereka menggantungku di dinding kusam sana. Mereka orang-orang bodoh. Mereka pikir aku ini semacam porselin atau lukisan untuk mendandani dinding. Kebodohan itu membuat aku semakin haus. Tapi mereka tetap bodoh, tak memberiku minuman kesukaanku, hak mutlakku.”

Ia mengangguk-angguk, seolah mengerti bahasa maut pedang itu.

Ada magnet yang begitu kuat, yang secara paksa menarik nafsu kebiadaban keluar dari kuburan nuraninya. Dendamnya semakin mencuat, memamerkan tanduk murkanya. Nilai-nilai, norma-norma dan belas kasihan berangsur tergusur bahkan gugur.

“Darah akan menjarah darah,” tegur nuraninya. “Pedang akan menghadang pedang. Kekerasan akan menetaskan kekerasan pula.”

“Tenang, Ji. Hati nuranimu itu tak’kan pernah sanggup menyelesaikan masalahmu,” serobot sang pedang. “Bahkan ketika perasaanmu tertusuk dan hatimu terluka, hati nurani hanya menyaksikan seraya menyanyikan lagu-lagu penghiburan. Sekadar lagu penghiburan. Tidak lebih. Padahal, masalahmu tak jua terselesaikan.”

Oji mengangguk-angguk. Pikirannya berada diantara debat nurani dengan pedang. Ia bosan pada buaian hiburan. Ia bosan pada kata-kata madu belaka.

“Nurani hanya bisa menyanyi tanpa pernah berani menjamin ketentramanmu sendiri atas sikap orang-orang terhadap perasaanmu. Sedangkan pada diriku, kau bisa pakai untuk memproklamirkan dirimu kepada orang-orang, bahwa dirimu ada dan adalah manusia, bukan patung kayu lapuk yang bisa diinjak, diejek dan dienyahkan begitu saja.”

Nurani tak tinggal diam. “Oji, ingat, pedang bukanlah alat yang tulus mengasihimu. Ia hanya akan menggodamu, tapi kemudian justru menjerumuskanmu ke dalam penyesalan yang semakin dalam. Pedang akan mengejarmu sampai ke liang lahat, Ji. Percayalah, aku tak’kan pernah patut mendustaimu,” tutur nuraninya.

Oji tak peduli. Baginya, pedang ini tampaknya lebih menjanjikan, punya kekuatan untuk menunaikan balas dendamku hingga tuntas tanpa bekas. Ia tak butuh keraguan.

“Hei, Kawanku, Oji, coba simak baik-baik. Nuranimu hanya akan membuat dirimu menjadi bimbang, banci, kehilangan nyali dan tidak mampu berbuat apa-apa terhadap mereka-mereka yang melukaimu. Kalau kau mau memanfaatkan aku, pasti kelak kau dapatkan hakekat kejantanan itu. Aku bisa membereskan semua. Pikirkan yang ada di hadapanmu, jangan memikirkan hal-hal yang tak terjangkau olehmu. Keresahan hari ini, cukuplah untuk hari ini saja. Selesaikanlah secepatnya, agar keresahan itu sirna dan berganti kelegaan yang tak terkatakan,” rayu pedang itu.

Oji terus memandangi sekujur tubuh pedang itu sambil membiarkan pikirannya bercumbu dengan masa lalu, masa depan, jati diri kepriaan dan martabat kemanusiaannya.

Pedang dan luka hati tersebut pun mengingatkannya pada peristiwa penyabetan pedang atas dirinya yang dilakukan oleh seorang simpatisan sebuah partai yang sedang berpawai sewaktu menjelang PEMILU. Lengannya robek sepanjang 20 centimeter. Ketika itu tak ada siapapun berani menolong atau mengejar pelaku penyabetan. Sebab, disamping sebagian besar rombongan selalu mengacung-acungkan senjata tajam, juga para simpatisan tersebut telah membekali diri mereka dengan ilmu kebal.

A-ha! Ilmu kebal! Aku harus segera berlatih, guman Oji.

Ia teringat, masih ada beberapa orang lagi yang selalu semena-mena terhadapnya. Ia merasa bahwa ketaklukannya pada nurani seringkali justru memperpuruk dirinya, laksana impotensi mental. Ia merasa dirinya dianggap seorang pengecut yang mengkerut di sudut ketakutan.

Saat itu pula nurani Oji terbungkam. Yang tengah menguasai hatinya adalah sakit dan pahit. Sakit dan pahit telah bertahta, norma dan belas kasihan pun tercampakkan.

“Aku harus tunjukkan siapa diriku! Bedebah-bedebah itu harus takluk dan menyembah-nyembah dalam kubangan darah mereka. Biarpun mereka minta ampun sampai-sampai nangis darah dan nanah, akan kuantarkan mereka ke gerbang akhirat!” umpat Oji dengan nada geram. Ingin sekali ia segera mendatangi dan menghabisi satu per satu orang yang dianggapnya telah melukai hatinya, sekecil apapun persoalannya.

“Saatnya kini kau buktikan kehandalanku,” bisik pedang itu.

“Ya, aku coba dulu. Bersiaplah.”

Kemudian tangan Oji mulai meliuk-liukkan pedang itu di udara dan menggerakkannya dengan perlahan seolah gerak lambat suatu pertarungan. Selanjutnya berangsur cepat dan kian cepat. Pedang yang semula berbeban cukup berat itu pun berangsur menjadi enteng, semakin enteng dan terasa menyatu dengan tangannya. Kilauan-kilauan yang anggun tapi sadis kian merasuki akal sehatnya.

Ia terus menari-narikan pedang itu. Ia menikmatinya. Pedang itu sungguh-sungguh telah merasukinya serta menyalurkan kekuatan gaibnya. Sabetannya berkelebat cepat, menyambar kemana-mana. Dalam kepalanya hanya berisi orang-orang yang pernah melukai hatinya, menyengsarakan hidupnya. Dan, keinginan untuk membalas bahkan lebih dari sekadar meneror pun perlahan-lahan bangkit dari kuburan masa lalunya.

Suara keras mendadak menggelegar dari arah belakang Oji.

“Hei! Kalau nyapu, yang bener, ya! Jangan berlagak kayak pendekar film kung fu! Apa kau belum puas dihukum gara-gara menganiaya kakekmu sendiri, hah!” bentak seorang petugas yang sedang mengawasi kegiatan kebersihan di penjara itu.

*******

Babarsarijokja, Maret 2002

1) Malam menjelang bulan Muharam atau tahun baru Hijriyah. Bagi para tetua orang Jawa, malam 1 Suro merupakan malam yang tepat untuk memandikan/membersihkan (menjamasi) pusaka mereka.

[cerpen ini dimuat di harian sinar Harapan, edisi Sabtu, 21 Sepptember 2002]

                                              dipajang pada pukul <$BlogItemDateTime$>


ANTOLOGI CERPEN KEDUA AGUSTINUS WAHYONO

SAMBAL BELACAN MENUNGGU DI RUMAH

Onoy duduk sendirian saja menikmati suapan terakhirnya di warung makan langganannya. Piring-piring kosong bekas orang makan menghiasi meja makan di antara bangku-bangku kosong sebelah tempat duduknya. Makanan di rak pajang pun menyisakan piring-piring kosong. Sementara ibu warung sedang sibuk membereskan meja lainnya. Anak gadisnya membawa piring-gelas ke belakang.

“Noy, jangan lupa oleh-oleh terasinya, ya,” pesan ibu warung makan.

“Iya, Bu,”sahut Onoy yang tengah asik minum kopi.

“Terasi bangka enak ya, Noy,” timpal Sari, anak gadis bu warung.

Terasi atau belacan bangka memang enak, batin Onoy. Apalagi martabak 1) bangka, seperti martabak bangka di Kotabaru milik orang Air Kenanga dan martabak bangka di sebelah timur Alun-alun Utara milik orang Tempilang. Kawan-kawan yang bukan dari Bangka selalu menagih martabak bangka kalau ketemu Onoy.

Terbayang mudik, maka terbayang pula saat Onoy pada perjalanan awal ia merantau ke Jogja. Kota Budaya yang “Berhati Nyaman” ini betul-betul ramah padanya. Penduduk sekitar kosnya yang bersahabat. Harga pangan dan pondokan pun tidak terlalu mahal dibanding kota besar lainnya. Di Kota Pelajar ini ia bisa banyak belajar tentang kemasyarakatan dan kebudayaan.

Dan memang tidak gratis untuk itu semua. Untuk mendapatkan keramahan, terlebih dahulu ia harus ramah. Untuk dapat memperoleh sesuatu, ia harus memberi sesuatu. Bisa jadi itu waktu, ongkos, tenaga, perasaan dan hasrat untuk maju. Timbal-baliknya tidak dengan seenak sendiri. Ia harus tahu apa itu sopan santun, terlebih dengan orang Jawa yang masih terikat adat istiadat yang kuat.

“Ibu minta oleh-oleh terasi aja ah, ndak usah repot bawa yang lain.”

Onoy menjawab dengan anggukan saja. Belum juga ditentukan kapan tepatnya ia mudik ke Bangka, pemilik warung makan sudah memesan oleh-oleh.

Usai menuliskan bon di buku khususnya sebagai pelanggan, Onoy segera menuju wartel di sebelah warung itu. Daerah kos Onoy memang enak. Banyak warung makan dan beraneka rasa, juga tersedia wartel. Jaraknya hanya puluhan meter saja. Pun dekat warnet yang berharga sewa Rp. 3.000 per jam, sehingga mudah untuk sekadar mencari berita-berita di koran online.

Tapi rumah orangtua Onoy di udik belum terpasang telepon, walaupun sudah lebih dua tahun orangtuanya menanti adanya pemasangan lagi di kampung mereka. Apa boleh buat. Onoy biasanya inlok pada malam hari, pukul 20.00. Di samping potongan 50 persen, juga karena emaknya numpang nelpon di tetangga depan. Tidak enak kalau sampai malam-malam, kendati biaya bisa lebih murah setelah jam sebelas malam. Ia jarang sekali bisa interlokal pada pagi hari sebelum pukul enam yang berbiaya pulsa 25 %. Sebab, paling cepat ia bangun pukul setengah tujuh.

Pernah adik sepupunya menawarkan kartu telepon ‘isi ulang’. Onoy tidak mau. Baginya, menggunakan kartu ilegal itu tidak beda dengan tindak penipuan, penggelapan, manipulasi dan mencuri pulsa. Sebab biasanya harus dipakai pada lokasi-lokasi yang sepi demi ‘keamanan’ dari sergapan patroli. Bagi Onoy, apa enaknya inlok disertai rasa was-was dan rasa bersalah.

***

Jam dinding di wartel sebelah warung makan langganan Onoy dan dekat kosnya itu menunjukkan hampir pukul delapan. Beberapa kawannya nongkrong di sebelah pintu masuk wartel. Onoy bergabung sebentar dengan mereka sembari menunggu tepat pukul delapan. Ia hendak inlok ke Sungailiat, ke Sri Pemandang pucuk. Malam kemarin ia telah membikin janji dengan emaknya, ketemu di telepon nanti, jam delapan malam. Ia mau menanyakan orangtuanya minta oleh-oleh apa, terutama yang tidak terlalu mahal. Juga mau bilang bahwa ia pulang naik kapal dari pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

Salah seorang dari mereka memainkan gitar. Mereka memlesetkan beberapa lirik lagu Sepasang Mata Bola.

Hampir mati di Jogja
Ketika wesel belum tiba
Panas dingin melanda
Masuk angin datang tiba-tiba


“Ha ha ha ha ...,” tawa mereka serempak.

“Bang Noy, sudah jam delapan,” sela penjaga wartel, yang juga dikenalnya.

“Sebentar, sebentar. Aku mau inlok dulu. Hampir mati di Jokja nih.”

“Ha ha ha ha ...”

“Aku ngebon dulu ya. Sekitar dua-tiga hari lagi aku bayar. Soalnya, aku mau nelpon ke rumah dulu. Minta duit!” bisik Onoy pada si penjaga wartel. Si penjaga wartel mengangguk pelan.

Onoy bergegas masuk wartel, menuju ruang kecil seukuran 1x1 m2 yang berdinding triplek dan berpintu separuh kaca. Kemudian ditekannya beberapa angka. Ada nada terhubung. Lalu, telepon di seberang sana diangkat. Terdengar suara tetangganya di udik. Lantas, giliran emaknya yang bicara.

“Jangan berlama-lama terpesona di Jakarta, Noy,” pesan emaknya di telepon.

“Kesempatan, Mak. Gedung-gedungnya bikin aku senang. Di Jogja cuma ada beberapa, nggak sampai puluhan. Apalagi di kampung kita, mana ada gedung megah,
mewah dan indah begitu. ‘Kan aku bisa mengamati gedung-gedung sesuai kuliahku.”

“Justru di sana itu menyimpan hal-hal berbahaya, Noy.”

“Ah, masak berbahaya menikmati kemegahan?”

“Ya ampun, ini anak!” keluh emaknya. “Tidak menyimak berita bom meledak di dekat rumah duta besar Filipina, di gedung kejaksaan agung, di gedung bursa efek dan entah bakal di lokasi mana lagi. Sedang asyik-asyiknya kamu nonton kemegahan itu, umpamanya saja ada bom meledak di dekatmu, kamu mau pulang dengan kaki satu, tangan satu, mata satu, kuping satu, leher satu, hidung satu?”

“Wah, Emak terlalu curiga, terlalu berprasangka buruk. Semua itu ‘kan tergantung takdir, suatu kebetulan berada di tempat kejadian.”

“Eeee, dikasih tahu malah bantah!” sergah emaknya. “Kebetulan dan takdir? Kalau sampai beberapa kali seperti itu, apa masih saja kamu anggap kebetulan dan takdir, sementara orang-orang sakit jiwa yang kerasukan setan itu bebas berkeliaran menabur bom?”

“Tenang, Mak, aku bisa jaga diri.”

“Tenang, tenang, katamu. Kamu sih bisa jaga diri, tapi siapa yang bisa menjamin sekitarmu terjaga dan bebas dari bom? Coba, siapa? Pokoknya dua hari lagi sudah harus sampai di rumah. Kamu harus segera sampai di Bangka.”

“Iya, iya, sampai rumah. Tapi Emak nggak usah terlalu kuatir begitulah.”

“Nggak usah terlalu kuatir? Kalau orangtua ngomong, dengarkan! Orangtua khawatir itu ada dasarnya, bukannya omong muter-muter kayak orang-orang pinter di tipi itu. sembarang omong semacam Emak itu mengandung kamu tidak satu-dua hari. Sembilan bulan sepuluh hari! Tidak ada emak manapun yang tidak kuatir pada keselamatan anaknya. Sewajibnya seorang emak memperingatkan. Contohnya waktu pakaianmu di jemuran hilang. Mak ‘kan sudah ngasih peringatan, “Noy, kalau sudah sore, baju di jemuran segera dimasukkan”. Jawabmu, “Tenang, Mak, Onoy tahu. Di sini aman kok.” Buktinya? Lenyap baju-bajumu. Kamu kira beli baju boleh pakai daun bijur 2)? Kamu sangka mencari duit itu gampang kayak kamu nyari duit di dompet Emak? Kamu kira biaya untuk menghidupi kamu itu serba gratis, serba santai-santai?”

Onoy tidak menjawab, karena pertanyaan tersebut bukan untuk dijawab. Ia tahu bahwa emaknya tidak sedang mengajak diskusi, melainkan menasihatinya. Ia mendengarkan sembari main kipas angin kecil di sebelah pesawat teleponnya. Aroma dalam ruang sempit terasa lebih segar.

“Orang-orang yang main bunuh seenak nafsunya itu memang tidak pernah sampai hati nurani menganggap betapa kamu itu mahal bagi Emak. Orang-orang kelainan jiwa itu cuma tahunya senang bisa bikin teror sana-sini. Maklum, utek 3) mereka isinya belacan, hati nurani mereka isinya rusip 4)! Mereka itu orang-orang sakit mental yang jelas berbahaya. Lebih bagus orang-orang yang memang bermental terbelakang.”

“Tapi bagi Emak,” lanjut emaknya, “kamu itu tidak bisa dibeli orang dengan uang. Kamu tidak bisa ditukar dengan bom atom sekalipun. Kamu tidak ternilai harganya. Emak rela sakit bersalin demi kamu ada dan menjadi dirimu yang sebenarnya. Orang-orang itu mana merasakan sakitnya bersalin. Coba kalau istri, anak atau orangtua mereka sendiri terkena bom begitu, apa orang-orang itu akan tenang-tenang sambil ketawa ngakak? Kau tahu kenapa yang tega main bom itu laki-laki? Tahu?! Soalnya mereka tidak pernah merasakan sakitnya bersalin macam Emak ngelahikan kamu. Ngerti?!”

“Ngerti, Mak.”

Memang sulit untuk tidak singgah di Jakarta yang berada di antara Bangka dan Jogja, karena ia paling suka naik kapal dari pelabuhan Tanjung Priok dan segera sampai Bangka. Jakarta yang bertabur gedung indah sekaligus bertabur rasa resah. Jakarta, mungkin saat terakhir ini, tidak lagi tepat jadi kota fantasi. Bahkan mungkin sudah menjadi sebuah kota impian serba horor. Ancaman teror, tawuran, amuk massa, kekerasan, penodongan, perampokan, penipuan, individualisme, konsumerisme, harga makanan yang mahal dan masih ada lainnya yang dapat membuat rasa tidak nyaman.

“Pokoknya Emak tunggu tiga hari lagi! Emak akan siapkan makanan kesukaanmu. Mau lalap daun ubi dengan sambel belacan atau rusip?”

“Terserahlah, Mak. Sambel belacan dan sambel rusip, sama sipnya.”

“Jelas sip sambel belacan kitalah!” tukas emaknya. “Oh iya, jangan lupa bawa oleh-oleh enam kotak bakpia pathuk untuk rumah kita dan untuk famili, enam keranjang salak pondoh, juga baju batik untuk ayah, kain pantai untuk adik, daster untuk Emak, kerajinan perak untuk ruang tamu, kerajinan kulit untuk...”

“Haaaah, duitnya jelas nggak cukuplah, Mak.”

“Usaha ‘gimana kek. Pinjamlah dulu. Kelak balik ke Jokja lagi, baru kamu lunasin.”

“Wah, kawan-kawanku juga tengah bokek. Maklumlah, mahasiswa, anak kos dan tanggal tua.”

“Makanya, perbanyaklah koleksi persahabatanmu. Jangan terkurung di kampus dan kos melulu. Sekolah jauh-jauh, ujung-ujungnya hanya jadi ‘katak dalam tempurung’. Percuma, Noy.”

“Iya deh, Mak, tunggu Onoy pulang ya. Salam buat ayah dan adik.”

“Ayah ada di sini, mau ngomong sama ayah?”

“Waduh, duitku manalah cukup, Mak. Inlok ini pun aku terpaksa ngebon dulu sama penjaga wartel. Untung saja aku telah lama kos di daerah ini.”

“Ya, sudah, salammu kelak Mak sampaikan. Hati-hati, ya. Jangan mikir soal sambel belacan yang menunggumu di rumah, kelak kepun 5) pula!”

***

Bulan tampak meruncing sebesar sepersepuluh dari biasanya. Suara gigilan kodok terdengar ramai dari persawahan yang tak jauh dari kosnya. Dalam ruang berukuran 3x3 m2 Onoy menatap kosong barang-barang yang sedang dikemasnya, termasuk oleh-oleh titipan kawan-kawannya untuk orangtua mereka di Bangka.

Bayang-bayang kampung halamannya, Sri Pemandang pucuk begitu rupa menari-nari di pelupuk matanya. Barangkali kampung Sri Pemandang pucuk sudah maju. Fasilitas telekomunikasi murah dan memadai, semisal wartel. Juga warnet yang canggih dan harga sewa yang tidak jauh dari harga sewa di Jawa. Barangkali malam ini keluarganya di Bangka tengah asik menyantap nasi dengan lalap daun ubi bersambalkan belacan atau rusip. Alangkah sedapnya makan malam bersama-sama dalam satu lingkaran meja makan. Suasana kampung yang damai.

Onoy teringat pada Riduan, tetangga kampungnya yang rumahnya hanya berselisih tiga rumah dari rumah orangtua Onoy. Selama di Kota Pelajar, Onoy seringkali bersua Riduan yang kebetulan kampusnya berdekatan dengan kos Onoy. Riduan telah menikah sebelum kuliahnya usai dengan alasan demi menghindari zinah. Untuk mencukupi biaya hidup berdua istrinya, Riduan bekerja sambilan di sebuah cv bagian instalasi.

Tadi siang Riduan menitipkan oleh-oleh untuk orangtuanya di udik. Kain batik, seprei dan sarung bantal sebanyak dua set, baju-baju tipis yang lembut dan sarung untuk ayahnya. Juga titip surat yang inti isinya mengatakan bahwa ia belum bisa mudik lantaran istrinya sedang siap-siap melahirkan.

Waduh, Rosalia kelak kubawakan oleh-oleh apa ya?

Duarrrrr!!!

“Tolooooooooooooooooooong! Tolooooooooooooooooooooooong!!”

Suara ledakan langsung menerjang jendela kos Onoy. Sontak Onoy terkejut. Jantungnya terasa runtuh. Ia bergegas keluar kamar, menuju sumber suara. Di luar sana terdengar ramai sekali suara orang-orang.

“Ada apa, Ji?” tanyanya sewaktu berpapasan dengan Oji, tetangga kosnya.

“Nggak tahu tuh, ada apa dengan rumah ibu warung itu.”

Rumah ibu warung? Waduh!

Onoy segera masuk ke halaman rumah yang letaknya di belakang warung makan langganannya. Onoy berlari ke tempat orang ramai di dapur rumah ibu warung. Ia hendak membantu menaklukkan api. Beberapa orang tengah sibuk melakukan sesuatu di bagian belakang rumah ibu warung. Sementara ibu warung dan Sari terlihat duduk lemas di ruang tamu.

“Haduhbiyuh, copot jantungku, jantungku copot. Mati aku, mati aku. O ala, Gusti, Gusti,” kata ibu warung sambil terengah-engah usai api berhasil dipadamkan.

“Gara-gara Onoy sih,” gerutu Sari.

“Lho, kok gara-gara aku?”

“Lha saking asiknya kami ngobrol di ruang tipi soal sambel terasi bangka, kami lengah mengawasi kompor minyak yang sedang kami pakai menanak nasi untuk makan malam. Tiba-tiba mak duar! Kompor minyak kami yang sudah tua itu meledak.”

Onoy jadi teringat pada sambel belacan yang menunggu dirinya di nun udik sana.

*******

jogjarindupadasripemandang, 2000


Keterangan:
1. Martabak terang bulan = sebutan di Jogja untuk kue martabak yang terbuat dari adonan tepung, telur dan air yang dimasak dalam loyang bulat. Di Jogja, kata “martabak” berarti juga martabak telur, yakni jenis penganan yang terbuat dari adonan tepung-telur untuk pembungkus, dan di dalamnya berisi irisan sayuran.
2. Bijur = ketela atau ubi jalar/rambat
3. Utek = otak
4. Rusip = bahan sambal yang terbuat dari ikan kecil-kecil yang telah dipermentasikan (dibusukkan) dalam botol tertutup.
5. Kepun = kempun = kempunan = suatu keadaan (musibah/kecelakaan) yang dialami seseorang karena dalam pikirannya hanya teringat-ingat akan atau menginginkan suatu hal

[cerpen ini dimuat di harian Bangka Pos, edisi Minggu, 19 Januari 2003]

                                              dipajang pada pukul <$BlogItemDateTime$>


Cerita-cerita pendek ini
tersusun   untuk cikal-bakal buku
kumpulan cerita pendek bertajuk
"Kenapa Mereka Suka Menggodaku"
karya
AGUSTINUS WAHYONO

  LIHAT LAINNYA
  [> ANTOLOGI PERTAMA
  [> ANTOLOGI KETIGA
  [> KUMPULAN CERPEN BARU
  [> KUMPULAN ILUSTRASI

akan diterbitkan oleh :
PUSTAKA BUDAK BANGKA
Jl. Batintikal 174
Sungailiat 33214
Bangka
[Bangka Belitung]
INDONESIA

Telp.: (0717)93198

alamat e-mail:
pustakabudakbangka@yahoo.com